Milad ke-68 Jadi Inspirasi, Isbedy Stiawan ZS Abadikan Waktu dan Kehidupan dalam Buku “Puisi 68”

Oleh Amien Budi Utomo, Lamban Budaya Nuswantara

SKYSHI MEDIA- Membaca Puisi 68 karya Isbedy Stiawan ZS serupa membuka lembar waktu yang tidak tergesa. Kata-kata tidak berdiri sebagai hiasan, melainkan jejak—tipis, namun menetap. Di dalamnya, hidup tidak dijelaskan, tetapi dihadirkan: lewat detak, cahaya, dan sisa-sisa yang enggan hilang.

Buku ini, ditulis sepanjang 2025 hingga 2026 dan ditandai pada milad ke-68, bukan sekadar penanda usia. Ia lebih menyerupai himpunan ingatan yang disusun pelan-pelan. Ada yang ditujukan, ada yang dilepas. Puisi-puisi menjadi semacam pemberian—hadiah sunyi kepada mereka yang pernah singgah dalam hidup penyair.

Dalam “Tentang Waktu”, hari-hari tidak dihitung, tetapi dirasakan. Dinding tanpa kalender, langit yang kosong, dan matahari yang setia bergerak—semuanya menegaskan bahwa waktu tidak berada di luar diri, melainkan berdenyut di dalam tubuh. Ada kesadaran yang tidak gaduh: bahwa pada akhirnya, manusia hanya bisa berserah pada yang menggerakkan.

“Lelaki Beraroma Kayu Putih” menghadirkan sosok yang berjalan dengan tanda yang tak hilang. Aroma menjadi identitas, sekaligus jejak. Ia bergerak di antara pelarian dan pilihan, antara menyelamatkan dan meninggalkan. Dunia mengawasinya, seperti kamera yang tak berkedip. Ia hidup, tetapi juga terus diburu oleh bayangannya sendiri.

Di sisi lain, “Melambai untuk Kita (bersama Adelia)” berdiri lebih lirih. Sebuah jeda. Dua orang, langit basah, dan percakapan yang nyaris bisikan. Kedekatan tidak dipastikan, hanya dirasakan. Ada bayang kematian yang tidak datang dengan gaduh, melainkan pelan—seperti lumpur yang tiba-tiba mendekat. Puisi ini terasa sebagai hadiah: untuk seseorang yang dipanggil dengan lembut, tanpa perlu dijelaskan.

Sementara itu, “Setiap Baris Puisi Kelak Abadi”, yang dipersembahkan untuk Iyut Fitra, menjadi ingatan yang tidak ingin hilang. Kehidupan sehari-hari—lapau, rokok, percakapan ringan—tiba-tiba berhadapan dengan kefanaan. Namun puisi menolak selesai. Ia menulis, dan dengan itu, ia menahan sesuatu agar tetap tinggal, meski tubuh telah pergi.

Keempat puisi ini hanya serpihan kecil dari keseluruhan Puisi 68. Namun dari sana tampak satu hal yang menetap: puisi sebagai cara mencatat, sekaligus merelakan. Sebagai bentuk ingatan, dan juga pemberian.

Maka membaca buku ini bukan sekadar mengikuti kata, melainkan memasuki ruang yang hening—tempat hidup dipahami tanpa perlu banyak penjelasan.***

Buku Puisi Tunggal : “Puisi 68”
Penulis : Isbedy Stiawan ZS
Cetakan : ke-1
Terbit : 2026
90 Halaman
Penerbit : Lampung Literature