SKYSHI MEDIA- Puisi-puisi Muhammad Alfariezie memperlihatkan ciri kuat yang dapat disebut sebagai Gaya Kritik Lampung, yakni kritik sosial-politik yang disampaikan melalui percampuran fakta lokal, humor sinis, kemustahilan, dan bahasa rakyat sehari-hari.
Wali Kota Ngemil Cahaya
Di bulan tidak ada awan dan bunga
mustahil bermekar tapi wali kota
ingin kita terbang tinggalkan
taman dan sungai-sungai, berbekal
harap apel dan semangka tumbuh
menjalar sekedip mata
Tanpa satelit luar angkasa, tanpa
rudal antariksa, ia ingin kita ke
sana
Ia ingin kita mandi-ngemil cahaya
2026
Kita Ditempatkan Wali Kota
di Selembar Daun Kelor
Di atas selembar daun kelor, wali kota
ingin kita di sana lelap tertidur, ingin
kita asyik bercanda hingga ingin kita
terus memilihnya
Di sungai hitam berbau serakan sampah,
wali kota ingin kita mandi dan mencuci
serta jika haus wajib meminumnya untuk
terus mendukung keluarganya duduk
di singgahsana sebagai penerusnya
Tapi di taman berkembang wangi
bayi mentari dan kesucian senja,
ia tuntun polisi dan jaksa untuk
nikmat semangka dan mudah
memetik mangga meski dalam
konstitusi para berseragam
yang mati hidupnya terjamin
negara itu musykil mencoblosnya
Maka siapa yang gila. Kita yang
pasrah atau mereka yang mewah?
2026
Konser Sampah Wali Kota
Hujan pagi ini tak kunjung
reda meski siang nanti
konser band terkemuka
di lapangan terbuka
Ini bukan kehendak atau
salah wali kota, tapi jika
merendam seisi kota hingga
tiket yang kita beli sia-sia–
apakah itu salah warga?
Sungguh warga selalu bayar
sampah bulanan dan tak
pernah dari jendela, buang
sampah ke sungai
Tapi pemerintah tidak pernah
menyediakan lahan buang
sampah sementara
Terpaksa, sesuai instruksi
wali kota– warga serahkan
pinggir jalan untuk limbah
rumah tangga hingga banjir
merusak konser terkemuka
dan sia-sia tiket di tengah
anjloknya rupiah
2026
Pengurus Semut Merah
Rombongan pendaki tersesat
setelah sumbar bahwa badai
harimau hanya gerombolan
semut merah
Rombongan pendaki itu ialah
pengurus yayasan, guru dan
orang tua murid sekolah
wali kota pengguna uang dan
barang pemerintah
Mereka tak mendengar
larangan warga dan perintah
ramalan cuaca
Tersesat mereka dan repot
semua hingga Menteri
maupun Ketua Mahkamah
Konstitusi serta Petinggi Partai
masuk ke belantara tak lagi
peduli urusan negara
2026
Wali Kota Kejati
Anak kecil lompat ke pucuk
pohon jati, lalu turun dengan
kepala menjadi kaki
Musykil terjadi, kecuali dalam
mimpi
Seperti wali kota membunuh
banjir dan warga tidak lagi
mendengki kepada elit
politik yang tempat tinggal
kerjanya enggak pernah
wali kota usik meski panjangnya
tak hanya selebar kali namun
membentuk lorong tersendiri
Anak kecil menangis di bawah
pohon jati karena lengannya
sakit ibu cubit
Bukan mimpi tapi peristiwa
sahih layaknya wali kota
hadiahi 60 miliar buat Kejati
tapi hanya memberi 500 ribu
dan beras untuk korban banjir
dan 2 kilogram telur guna tekan
stunting warga miskin
2026
Berbeda dengan satire politik yang cenderung abstrak, Alfariezie menggunakan simbol yang dekat dengan pengalaman masyarakat Lampung seperti banjir, sampah, semangka, telur, sungai, hingga proyek pemerintah.
Kritik tidak disampaikan secara marah, melainkan dengan menampilkan keadaan yang sengaja dibuat ganjil dan tidak masuk akal sehingga kebijakan atau perilaku penguasa tampak menertawakan dirinya sendiri.
Dalam Wali Kota Ngemil Cahaya, Kita Ditempatkan Wali Kota di Selembar Daun Kelor, hingga Wali Kota Kejati, penyair membangun logika terbalik: yang mustahil dianggap biasa, sementara kenyataan justru tampak lebih absurd daripada mimpi.
Teknik ini menjadi kekuatan utama Alfariezie. Ia tidak menyerang tokoh secara langsung, tetapi membiarkan ironi bekerja melalui citraan-citraan sederhana yang mudah dipahami masyarakat.
Karena itu, puisi-puisi ini terasa seperti perpaduan antara laporan sosial, sindiran politik, dan folklore modern yang lahir dari denyut kehidupan daerah.
Sebagai penyair yang mewakili Generasi Penyair Baru, Muhammad Alfariezie menghadirkan puisi sebagai alat kontrol sosial.
Kekhasannya terletak pada kemampuannya mengubah isu lokal menjadi satire puitik yang tajam namun tetap komunikatif.
Dari sinilah lahir identitas Gaya Kritik Lampung: puisi yang berpijak pada peristiwa nyata, berbicara dengan bahasa rakyat, dan menggugat kekuasaan melalui ironi serta kemustahilan yang mengandung kebenaran sosial.***
