Dari Rumah Panggung hingga Pentas Puisi, Bulan Bagha Sekubal Unila Jadi Ruang Merawat Budaya

SKYSHI MEDIA- Suasana malam purnama di Laboratorium Kebudayaan FKIP Universitas Lampung (Unila) terasa semarak saat kegiatan Bulan Bagha digelar pada Rabu (28/10/2026), pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan Sekelih Himpunan Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung (Sekubal) ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merawat dan menghidupkan tradisi serta seni budaya Lampung.

Dalam bahasa Lampung, bulan bagha berarti bulan purnama. Pada masa lalu, purnama menjadi salah satu waktu bagi masyarakat Lampung untuk menyelenggarakan kegiatan adat. Bagi Sekubal, tradisi ini dihidupkan kembali melalui pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan mahasiswa, akademisi, seniman, serta undangan.

Nama Sekubal sendiri juga merujuk pada makanan khas Lampung yang terbuat dari ketan dan dibungkus menggunakan daun pisang, menyerupai lontong atau lamang tapai.

Bulan Bagha diselenggarakan setiap Oktober, bertepatan dengan suasana purnama. Kegiatan ini digagas oleh Sekubal atau mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung FKIP Unila sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya daerah.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dekan FKIP Unila Dr. Albet Maydiantoro, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung Dr. Munaris, para dosen, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung Kuswanto, S.S., M.Hum. Hadir pula sejumlah seniman Lampung, termasuk Alexander Gebe dan Isbedy Stiawan ZS.

Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia, ketua Sekubal, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung Dr. Munaris, dan Dekan FKIP Unila Dr. Albet Maydiantoro.

Setelah rangkaian sambutan, panggung Bulan Bagha diisi dengan penampilan tari Sigeh dan tari Bedana. Suasana semakin hidup saat para pemain mementaskan teater “Penagih Utang”, karya Anton Chekhov yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Lampung.

Pertunjukan teater yang sepenuhnya menggunakan bahasa Lampung itu berhasil mengundang tawa penonton. Penggarapan yang menarik, penggunaan properti minimalis, serta kemampuan ketiga pemain menjadi unsur yang membuat pementasan terasa menghibur.

Selain teater, penonton juga disuguhi tari Nyambai. Dalam tradisi pertunjukan tersebut, penari mengalungkan selendang kepada salah seorang undangan sebagai ajakan untuk memasuki arena dan ikut menari.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung, Kuswanto, menjadi salah satu undangan yang mendapat selendang. Ia pun ikut menari atau “ngibing” bersama undangan lainnya, menambah keakraban dan kemeriahan suasana malam itu.

Bulan Bagha ditutup dengan pembacaan puisi oleh empat penyair mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung. Mereka yang pernah mengikuti Bengkel Sastra yang digagas Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS membawakan puisi dalam bahasa Lampung.

Rangkaian pertunjukan tersebut menghadirkan beragam ekspresi seni, mulai dari tari tradisional, teater, hingga puisi. Bahasa Lampung menjadi bagian penting dari kegiatan ini, bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan karya dan menjaga identitas budaya.

Pemilihan Laboratorium Kebudayaan FKIP Unila sebagai lokasi kegiatan turut memperkuat suasana tradisional. Area pertunjukan yang diapit dua rumah panggung khas Lampung memberikan latar yang selaras dengan semangat pelestarian budaya.

Melalui Bulan Bagha, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung FKIP Unila menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kreativitas, keterlibatan generasi muda, dan ruang pertunjukan yang mempertemukan tradisi dengan kehidupan masa kini.

“Mak kham siapa lagi, mak ganta kapan lagi!” menjadi seruan yang menegaskan semangat untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya Lampung.

Tabik.***