Alumni Bukan Sekadar Objek, Budiyono Ingin Jadikan Mereka Mitra Strategis Unila

SKYSHI MEDIA- Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Budiyono, membawa gagasan baru dalam pengembangan perguruan tinggi. Salah satu fokus yang akan didorong adalah mengoptimalkan kekuatan alumni sebagai subjek strategis dalam pembangunan pusat riset, pengembangan industri hingga pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Budiyono, perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya berorientasi pada menghasilkan lulusan. Kampus harus mampu memberikan kontribusi nyata melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha.

Lektor Kepala Bidang Hukum Tata Negara itu mengatakan, salah satu langkah yang akan menjadi perhatiannya adalah memperkuat hilirisasi hasil penelitian.

“Hal pertama saya, terutama untuk memperkuat hilirisasi, segera mendorong, menggeser dana-dana atau memperbanyak dana-dana penelitian, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan masyarakat, terutama di Lampung,” kata Budiyono.

Ia menilai Universitas Lampung memiliki kekuatan besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal, yakni jaringan alumni.

Dengan jumlah alumni yang telah mencapai hampir 100 ribu orang, Budiyono menyebut potensi tersebut dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun kemajuan Unila dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

“Alumni itu aset kita juga. Kita kurang lebih sudah hampir 100 ribu lebih alumni perguruan tinggi kita. Ini sumber daya yang sangat besar,” katanya, Senin, 7 September 2026.

Menurutnya, pendataan alumni tidak seharusnya hanya berhenti pada informasi mengenai tempat kerja atau profesi setelah menyelesaikan pendidikan di kampus.

Unila perlu mengetahui lebih jauh mengenai kompetensi, jaringan, pengalaman, serta bidang pengabdian yang dimiliki para alumni.

Data tersebut nantinya dapat menjadi dasar dalam membangun kolaborasi strategis antara perguruan tinggi dan alumni untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat, kebutuhan industri hingga kepentingan pemerintah.

Budiyono menegaskan, alumni tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek yang dimintai bantuan ketika kampus membutuhkan sesuatu.

Sebaliknya, alumni harus menjadi subjek dan mitra strategis dalam membangun pusat-pusat riset serta pengembangan yang memiliki dampak nyata.

“Kita melibatkan alumni. Karena tadi, alumni ini aset. Bukan menjadikan objek, tapi dia subjek,” tegasnya.

Menurut Budiyono, kolaborasi tersebut juga harus dibangun melalui perencanaan yang matang dan berkelanjutan.

Ia menilai kampus tidak etis jika hanya menghubungi alumni ketika sedang membutuhkan dukungan tanpa memiliki desain kerja sama yang jelas.

“Kita buka pemikiran mereka. Mereka berhasil sedikit banyak adalah kontribusi daripada almamater. Tapi kita harus punya perencanaan. Jangan ujug-ujug kita minta mereka, tapi tidak punya perencanaan,” ujarnya.

Budiyono bahkan membuka peluang untuk mendatangi langsung para alumni guna membangun desain kolaborasi berdasarkan kompetensi dan bidang keahlian masing-masing.

Jika dipercaya memimpin Unila periode 2027–2031, Budiyono juga berencana mengoptimalkan aset Universitas Lampung seluas sekitar 150 hektare di kawasan Kota Baru.

Lahan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat studi, pusat riset, serta kawasan pengembangan berbagai sektor strategis.

Mulai dari hilirisasi pertanian, perkebunan, peternakan hingga pengembangan pariwisata edukatif.

“Kita punya aset 150 hektare di Kota Baru. Ini kan masih lahan tidur yang belum bisa dimanfaatkan. Dan itu aset. Kalau kita jadi pusat-pusat studi, pusat pengembangannya, centra sawit di sana, peternakan, bukan hanya pusat penelitian,” ujarnya.

Melalui konsep tersebut, Budiyono berharap Universitas Lampung dapat bergerak lebih jauh dari sekadar institusi pendidikan.

Kampus diharapkan menjadi pusat inovasi yang mampu mempertemukan akademisi, alumni, pemerintah, masyarakat dan dunia industri dalam satu ekosistem kolaborasi.

Dengan kekuatan puluhan ribu alumni serta aset yang dimiliki, gagasan menjadikan Unila sebagai pusat riset dan pengembangan berbasis kebutuhan masyarakat dan industri menjadi salah satu arah yang ingin didorong Budiyono dalam kontestasi pemilihan Rektor Unila periode 2027–2031.***