Riset Jangan Cuma Buat Naik Jabatan! Budiyono Minta Kampus Fokus Pecahkan Masalah Masyarakat

SKYSHI MEDIA- Riset di perguruan tinggi dinilai jangan hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah atau sekadar memenuhi kewajiban akademik.

Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031, Budiyono, mendorong agar hasil penelitian perguruan tinggi benar-benar memiliki dampak nyata dan mampu membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Menurut akademisi bidang Hukum Tata Negara tersebut, dunia kampus memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan daerah.

Namun, potensi itu harus didukung dengan perubahan orientasi riset yang tidak hanya fokus pada pemenuhan Tridharma Perguruan Tinggi.

“Riset itu bukan hanya sekadar produk ilmiah, tapi bagaimana riset itu mempunyai output atau berdampak memecahkan persoalan masyarakat,” kata Budiyono, Senin, 7 September 2026.

Jangan Cuma Jadi Publikasi

Budiyono menilai, salah satu persoalan riset perguruan tinggi saat ini adalah masih kuatnya orientasi penelitian untuk kepentingan akademik.

Padahal, menurutnya, riset bisa memiliki peran yang jauh lebih besar jika diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Mulai dari persoalan ekonomi, hukum, pertanian, hingga pengembangan produk unggulan daerah.

Dengan kata lain, riset jangan cuma keren di jurnal, tapi juga harus terasa manfaatnya di kehidupan nyata.

Menurut Budiyono, perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang lahirnya inovasi sekaligus solusi.

“Riset itu bukan hanya sekadar publikasi, tapi mempunyai riset yang bisa memecahkan persoalan-persoalan masyarakat,” ujarnya.

Singkong Lampung Bisa Jadi Contoh

Budiyono mencontohkan komoditas singkong yang selama ini menjadi salah satu produk penting di Provinsi Lampung.

Menurutnya, perguruan tinggi bisa mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan potensi singkong melalui penelitian yang terintegrasi.

Riset tidak hanya membahas teori atau menghasilkan tulisan ilmiah, tetapi juga bisa diarahkan untuk menciptakan solusi.

Misalnya, bagaimana singkong diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi, bagaimana meningkatkan kualitas produksinya, hingga bagaimana strategi pemasaran yang tepat.

“Bagaimana riset itu terhadap produk singkong, bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya. Itu bisa bukan hanya sekadar publikasi, tapi mempunyai riset yang bisa memecahkan persoalan-persoalan masyarakat,” katanya.

Artinya, hasil penelitian kampus bisa menjadi jembatan antara potensi daerah dengan kebutuhan pasar.

Unila Harus Lebih Dekat dengan Persoalan Daerah

Menurut Budiyono, posisi Unila sebagai perguruan tinggi negeri di Lampung memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem pengetahuan yang lebih terhubung dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Ia mendorong adanya penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Kolaborasi dengan pemerintah dinilai penting untuk mempertemukan kemampuan akademik dengan persoalan kebijakan publik.

Sementara kerja sama dengan dunia usaha dapat membuka jalan agar hasil penelitian bisa benar-benar diterapkan dan dikembangkan.

Dengan pola tersebut, riset tidak hanya berhenti di ruang kampus.

Hasil penelitian bisa bergerak menjadi inovasi teknologi, produk unggulan, strategi pembangunan, hingga solusi terhadap persoalan sosial dan ekonomi.

Kampus Harus Jadi Tempat Cari Solusi

Budiyono menilai setiap bidang ilmu memiliki peluang untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Penelitian hukum, misalnya, harus mampu membantu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan hukum yang dihadapi masyarakat dan pemerintah.

Begitu juga penelitian pertanian yang seharusnya dapat memberikan manfaat langsung kepada petani.

Mulai dari peningkatan produksi, pengembangan komoditas, hingga penguatan nilai ekonomi produk pertanian.

Menurutnya, kekuatan ilmu pengetahuan di kampus akan semakin berarti jika mampu terhubung langsung dengan persoalan di lapangan.

33 Tahun Bersama Unila

Budiyono bukan sosok baru di lingkungan Universitas Lampung.

Ia mengaku mulai mengenal Unila sejak menjadi mahasiswa pada tahun 1993.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Budiyono kemudian mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Hukum Unila.

Jika dihitung sejak menjadi mahasiswa hingga menjadi akademisi, Budiyono menyebut dirinya telah sekitar 33 tahun berada dan mengenal dinamika Unila.

“Kalau dihitung sejak mahasiswa, saya masuk tahun 1993. Sekarang saya mengabdi sebagai dosen di Fakultas Hukum Unila. Kalau dihitung mungkin sudah kurang lebih 33 tahun saya mengabdi dan mengenal Unila,” katanya.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat perjalanan Unila dari berbagai perspektif.

Mulai dari sebagai mahasiswa hingga sebagai tenaga pengajar.

Bidik Rektor Unila 2027-2031

Budiyono merupakan akademisi di bidang Hukum Tata Negara.

Ia menempuh pendidikan sarjana dan magister hukum di Universitas Lampung sebelum melanjutkan pendidikan doktor ilmu hukum di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Kini, pengalaman akademik dan perjalanan panjangnya di Unila menjadi modal dalam kontestasi pemilihan Rektor Unila periode 2027-2031.

Bagi Budiyono, tantangan kampus ke depan bukan hanya soal meningkatkan reputasi dan prestasi akademik.

Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu memastikan ilmu pengetahuan yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat.

Kampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus semakin terhubung.

Sebab, menurutnya, riset terbaik bukan hanya yang banyak dikutip atau masuk jurnal bergengsi.

Riset terbaik adalah riset yang mampu membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Riset itu bukan hanya sekadar publikasi, tapi mempunyai riset yang bisa memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, terutama masyarakat di daerah Provinsi Lampung,” pungkasnya.***