SKYSHI MEDIA – Di tengah gaya hidup serba cepat dan penuh distraksi, banyak orang mulai mencari cara untuk menyederhanakan hidup. Salah satu tren yang semakin populer adalah decluttering—proses menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi diperlukan untuk menciptakan ruang yang lebih rapi, lega, dan menenangkan.
Decluttering bukan sekadar kegiatan beres-beres rumah. Lebih dari itu, ia adalah praktik refleksi diri: mengidentifikasi apa yang benar-benar penting dan melepaskan yang tidak memberi manfaat. Filosofi ini selaras dengan prinsip hidup minimalis yang menekankan kualitas dibanding kuantitas.
Psikolog menyebut, rumah yang berantakan sering kali mencerminkan beban mental penghuninya. Dengan menata ulang dan merapikan barang, seseorang dapat merasakan pengurangan stres, peningkatan fokus, hingga tidur yang lebih nyenyak. Bahkan, banyak orang merasa hidup mereka menjadi lebih ringan secara emosional setelah melakukan decluttering.
Fenomena ini juga berhubungan dengan kesadaran lingkungan. Barang yang tidak terpakai dapat disumbangkan, didaur ulang, atau dijual kembali. Dengan begitu, decluttering tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberi dampak positif bagi orang lain dan alam.
Di era konsumerisme, decluttering mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak barang yang dimiliki, melainkan pada bagaimana kita memberi ruang untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Hidup sederhana, ternyata bisa membuat jiwa lebih lega.***
