Ekonomi Musik: Dari Konser ke Streaming

SKYSHI MEDIA – Industri musik terus mengalami transformasi besar dalam dua dekade terakhir. Jika dulu pemasukan utama musisi datang dari penjualan kaset, CD, dan konser, kini ekosistemnya bergeser ke ranah digital, terutama layanan streaming. Pergeseran ini bukan hanya mengubah cara orang mendengarkan musik, tetapi juga bagaimana musisi dan industri memperoleh pendapatan.

Konser tetap menjadi sumber pemasukan signifikan, terutama bagi musisi besar. Tiket yang terjual habis, penjualan merchandise, hingga sponsor menjadikan konser sebagai “mesin uang” yang sulit tergantikan. Namun, pandemi COVID-19 sempat menghentikan laju tersebut dan memperlihatkan rapuhnya ketergantungan industri pada panggung live.

Di sisi lain, platform streaming seperti Spotify, Apple Music, dan Joox membuka peluang baru. Dengan sistem royalti berbasis jumlah putar, musisi bisa menjangkau pendengar global tanpa harus mengandalkan distribusi fisik. Meski begitu, banyak musisi mengkritik kecilnya bayaran per-stream, sehingga masih perlu dipadukan dengan pemasukan lain.

Fenomena ini melahirkan ekonomi musik hybrid. Musisi kini memanfaatkan berbagai jalur, mulai dari konser, streaming, media sosial, hingga kolaborasi dengan brand. Strategi ini bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi juga membangun basis penggemar yang loyal di dunia nyata maupun digital.

Pada akhirnya, ekonomi musik hari ini mencerminkan adaptasi industri terhadap perkembangan teknologi. Dari konser ke streaming, satu hal yang tetap sama: musik adalah bahasa universal yang selalu menemukan jalannya untuk hidup dan menghidupi.***