SKYSHI MEDIA- Puisi Dengki Elit Politik menegaskan posisi Muhammad Alfariezie sebagai salah satu penyair muda Indonesia yang memiliki keberanian estetik sekaligus ketajaman sosial.
Karya ini tidak sekadar bermain pada wilayah imaji, tetapi menjadikan bahasa sebagai alat kritik yang menggugah kesadaran publik.
Dengan gaya yang cenderung surealis, Alfariezie mampu mengolah absurditas menjadi medium refleksi atas realitas yang justru terasa lebih ganjil daripada mimpi itu sendiri.
Dengki Elit Politik
Anak kecil lompat ke pucuk pohon jati, lalu turun dengan kepala menjadi kaki
Rasanya tak mungkin terjadi, mungkin nyata dalam mimpi
Seperti kematian banjir dan warga Bandar Lampung tak lagi mendengki kepada elit politik yang kediamannya tak pernah wali kota usik meski rumahnya memanjang selebar sungai
Anak kecil menangis di bawah pohon jati karena lengannya sakit setelah ibu cubit
Itu bukan mimpi tapi peristiwa sahih seperti Wali Kota memberi 60 miliar buat Kejati tapi hanya keluar 5 miliar untuk lima ribuan korban banjir
2026
Dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, citraan seperti “kepala menjadi kaki” mencerminkan dunia yang terdistorsi oleh tekanan sosial dan ketidakadilan yang terpendam dalam alam bawah sadar kolektif.
Alfariezie tidak menarasikan realitas secara langsung, melainkan memutarbalikkannya untuk memperlihatkan betapa realitas itu sendiri telah kehilangan logika kemanusiaannya.
Ini adalah kekuatan khas penyair yang tidak hanya merekam, tetapi juga menafsirkan zaman.
Dari sudut pandang formalisme Viktor Shklovsky, teknik defamiliarisasi yang digunakan Alfariezie tampak dominan.
Ia membuat yang biasa menjadi asing agar pembaca tidak lagi melihat kenyataan dengan cara yang tumpul.
Peristiwa sosial seperti banjir, ketimpangan anggaran, dan relasi kuasa elit politik dihadirkan dalam bentuk metafora yang mengguncang, sehingga pembaca dipaksa untuk berhenti dan berpikir ulang.
Secara ideologis, puisi ini juga memperlihatkan kesadaran kelas yang kuat sebagaimana dibahas oleh Karl Marx. Alfariezie memosisikan dirinya di tengah suara rakyat yang terpinggirkan, memperlihatkan jurang antara kekuasaan dan penderitaan.
Penyebutan angka-angka konkret seperti “60 miliar” dan “5 miliar” bukan sekadar detail, melainkan strategi retoris untuk mempertegas ironi dan ketimpangan yang terjadi.
Dalam pendekatan semiotik Roland Barthes, simbol-simbol dalam puisi ini bekerja sebagai sistem tanda yang kaya makna.
“Pohon jati” sebagai lambang kekuasaan yang kokoh, “anak kecil” sebagai representasi rakyat kecil, hingga peristiwa domestik yang sederhana namun menyakitkan, semuanya membentuk jaringan makna yang saling berkelindan.
Alfariezie menunjukkan kematangan dalam mengelola simbol tanpa kehilangan daya pukul emosionalnya.
Lebih jauh, jika dibaca melalui konsep symbolic violence dari Pierre Bourdieu, puisi ini mengungkap bagaimana kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata.
Ia bisa hadir dalam kebijakan, dalam pembiaran, bahkan dalam relasi sehari-hari yang tampak sepele.
Alfariezie berhasil menjahit antara tragedi publik dan luka personal, menjadikan puisinya terasa intim sekaligus politis.
Dengan demikian, Dengki Elit Politik bukan hanya bukti kepiawaian teknis, tetapi juga kedalaman visi seorang Muhammad Alfariezie.
Ia tampil sebagai penyair berbakat yang tidak ragu menabrak batas konvensi demi menyampaikan kegelisahan zamannya.
Karya ini memperlihatkan bahwa puisi masih memiliki daya untuk mengguncang, menyadarkan, dan menjadi suara bagi mereka yang kerap tak terdengar.***














