SKYSHI MEDIA- Kelompok-kelompok tak bertanggung jawab sepertinya kian merajalela menebar intimidasi psikologis bagi individu maupun perkumpulan yang kritis terhadap kebijakan maupun informasi.
Setelah kantor Tempo mendapat kiriman kepala babi pada Maret 2025, setahun berselang tepatnya 12 Maret 2026 giliran Andrie Yunus menjadi korban oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Kini Perusahaan Pers Djadin Media Grup menjadi korban.
Serangannya bermula ketika grup media yang berdomisili di Lampung ini memberitakan kerenggangan hubungan antar penguasa.
Mulanya serangan berupa kiriman paket DDoS yang berusaha melumpuhkan sekitar 8 situs WEB: Lampung Insider, Pantau Media, Pantau finance, Muda Belia, Samudera News, Djadin media, dan Pesawaran Inside juga Inside Politik yang tergabung dalam perusahaan pers tersebut.
Karena dianggap serangannya lemah lantaran tak mampu serentak mengganggu semua website Djadin Media Grup– oknum tak bertangung jawab ini diduga kian berani melancarkan serangannya.
Terbaru pada Senin, 13 April 2026 pimpinan Djadin Media Grup Arief Mulyadin menerima puluhan kiriman paket misterius dengan modus COD.
“Jelas ini teror, karena berbarengan dengan pemberitaan itu serta serangan DDoS yang lemah. Karena tak sanggup melumpuhkan situs web kita, oknum-oknum ini sepertinya ingin mengintimidasi dengan cara kirim paket seperti ini,” ujarnya.
Arief mengaku hanya mengabaikan paket tersebut. Ia hanya mengatakan kepada kurir, bahwa tidak merasa memesan.
Menurutnya, teror oknum tersebut cukup niat karena mengambil foto lawasnya sebagai profil aplikasi online.
“Cukup niat untuk memberi intimidasi psikologis. Enggak mungkin kalau bukan dari kalangan elit, walaupun kelas 3,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan teror-teror semacam ini kian mengindikasikan– pemerintah tidak mampu menjamin keamanan dan kenyamanan serta HAK berpendapat dan menyebarkan informasi.
“Saya tidak tahu siapa oknum yang melakukan ini. Yang jelas teror kepada kami, kepada Tempo dan Andrie Yunus adalah cermin dari pemerintah kita hari ini, tidak mampu menjamin hak dasar demokrasi dan keamanan serta kenyamanan warganya.”
Bukan tak mungkin, paket itu serupa dengan yang pernah diterima Tempo.
Namun Arief menjelaskan, di paket tersebut tertulis isinya Ikan Lele dan Anime Jepang.
Yang jelas, aksi seperti ini tak selayaknya dilakukan oleh kalangan elit intelek politik.
“Mungkin aja isi sama. Tapi sih kalau saya baca isinya Ikan Lele dan Anime Jepang. Tapi kalau benar oknum ini dari kalangan yang berkuasa seperti pemerintah, sangat tidak layak karena mereka melekat dengan sumpah janji jabatan,” tegasnya.***



















