Dari UKMBS hingga Bursa Rektor Unila, Gino Vannolie Beberkan Sosok Dr. Budiono

SKYSHI MEDIA- Dukungan alumni Universitas Lampung (Unila) terhadap Dr. Budiono sebagai calon Rektor periode 2027–2031 terus menguat. Para alumni berharap Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) mempertimbangkan aspirasi tersebut dalam menentukan pemimpin Unila untuk lima tahun mendatang.

Dr. Budiono menjadi satu-satunya kandidat yang merupakan alumni asli Unila di antara tiga nama yang bersaing, yakni Prof. Warsito dan Prof. Asep Sukohar.

Sekretaris Dewan Pendidikan sekaligus Ketua UKMBS Unila pertama, Gino Vannolie, menilai Budiono memiliki modal kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa Unila kembali memperkuat marwah dan daya saingnya.

Menurut Gino, Budiono tidak hanya memiliki integritas, loyalitas, serta kemampuan komunikasi intelektual yang baik, tetapi juga karakter tangguh dan pengalaman yang dinilai mampu mendukung percepatan kemajuan kampus.

Penilaian tersebut, kata Gino, bukan muncul tanpa alasan. Ia mengenal Budiono sejak keduanya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila. Gino merupakan angkatan 1988, sedangkan Budiono angkatan 1993.

“Budiono punya visi dan misi yang jelas dan kita yakin itu. Berkat kemampuan dia di bidang hukum, kemudian jaringan yang dia miliki, saya sendiri pernah dalam satu komunitas di UKMBS Unila, bahkan saya yang termasuk memplonco dia, karena saya angkatan 88, dia angkatan 93, beda lima tahun,” ujar Gino, Jumat (30/10/2026).

Ia menilai karakter Budiono cukup kuat untuk memimpin universitas, sekaligus menjadi harapan bagi kalangan muda di lingkungan Unila.

“Saya tahu persis karakter Budiono ini cukup tangguh insya Allah untuk kalangan generasi muda dan saya pikir ini harapan baik bagi Unila kalau Dr. Budiono bisa betul-betul terpilih menjadi rektor Unila,” katanya.

Bangun Kekuatan dari Jaringan Alumni

Salah satu hal yang menjadi perhatian Gino adalah upaya Budiono merangkul berbagai elemen alumni, baik sebelum pendaftaran maupun setelah resmi menjadi bakal calon rektor.

Dukungan datang dari sejumlah alumni dengan latar belakang berbeda, mulai dari kalangan akademisi, pemerintah daerah, hingga tokoh nasional. Di antaranya Arie Pahala Hutabarat, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman yang disebut telah menyatakan dukungan kepada Budiono.

Gino menyebut masih banyak alumni lain yang turut memberikan dukungan. Menurutnya, keterlibatan para alumni menunjukkan adanya harapan agar Unila dipimpin sosok yang memiliki kedekatan historis dan komitmen terhadap almamater.

“Alhamdulillah perjuangan dan ketangguhan Dr. Budiono membuatnya maju ke tahap yang lebih jauh. Di antara tiga kandidat, dia alumni Unila sendiri, maka itulah dia terus berkomunikasi intens dengan kami para alumni,” tutur Gino.

Pada pemilihan di tingkat senat, Budiono memperoleh 22 suara dalam pemungutan suara pada Kamis (29/10/2026). Perolehan tersebut menjadi modal penting dalam tahapan pemilihan berikutnya.

Namun, Gino menyadari suara alumni tidak masuk dalam mekanisme pemungutan suara. Karena itu, ia berharap dukungan dan aspirasi alumni dapat menjadi pertimbangan bagi menteri dalam menentukan calon rektor terpilih.

“Walaupun memang alumni ini tidak punya suara, tidak menentukan, apalagi nanti yang punya suara 35 persen adalah Menteri, tentu harapannya support dari para alumni ini menjadi sesuatu yang penting untuk meyakinkan Menteri,” ujarnya.

Misi Kemandirian Kampus dan Mahasiswa Bebas Putus Kuliah

Bagi Gino, salah satu gagasan Budiono yang menarik adalah strategi membangun ekosistem kampus dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, terutama alumni.

Ia menilai alumni memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perguruan tinggi, baik melalui jaringan, keahlian, pengalaman, maupun kontribusi pendanaan.

“Karena memang membangun ekosistem kampus untuk menjadi ekosistem yang maju, tentu iklim ekosistem kampus dari multistakeholder itu punya peran yang penting. Dan salah satu stakeholder penting untuk membangun kampus itu menjadi lebih maju adalah peran alumni,” ungkapnya.

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah komitmen Budiono untuk mengupayakan agar tidak ada mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah karena kesulitan ekonomi dan tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

“Jangan sampai ada sejarahnya Unila memberhentikan mahasiswa karena tak mampu bayar UKT. Dzolim kalau sampai ada mahasiswa yang putus kuliah karena tidak mampu bayar UKT,” tegas Budiono.

Dalam pemaparan visi dan misi pada Rabu (28/10/2026), Budiono bahkan mengajak Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unila menyusun program pendataan mahasiswa yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan di setiap fakultas.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi bentuk nyata kontribusi alumni dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa.

“Kalau bisa saya berharap betul IKA itu mendata ke tiap fakultas mana adik-adik kita yang memang perlu kita bantu untuk menyelesaikan kuliahnya sehingga kita benar-benar berdampak seperti apa kata Presiden,” tuturnya.

Budiono juga mengajak alumni melihat bantuan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ia mencontohkan, apabila alumni mampu membantu lima mahasiswa menyelesaikan pendidikan, mereka berpeluang tumbuh menjadi pengusaha, pemimpin lembaga, maupun tokoh berpengaruh yang kelak dapat kembali berkontribusi bagi almamater.

Dengan demikian, bantuan kepada mahasiswa bukan hanya menyelesaikan persoalan biaya pendidikan saat ini, tetapi juga membangun jaringan generasi alumni yang dapat saling mendukung pada masa mendatang.

Maksimalkan Aset untuk Kemandirian Ekonomi Unila

Selain melibatkan alumni dalam bantuan pendidikan, Budiono menawarkan strategi mengoptimalkan aset universitas untuk memperkuat kemandirian ekonomi kampus.

Ia menyoroti sejumlah aset Unila yang berada di berbagai wilayah, antara lain Kota Baru di Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, hingga Lampung Barat.

Menurutnya, aset-aset tersebut perlu dipetakan dan dikembangkan dengan melibatkan investor serta memanfaatkan kapasitas intelektual para alumni dari berbagai bidang.

“Itu aset kan perlu investor dan perlu kita berdayakan berdasarkan intelektualitas sehingga bisa menghasilkan pendanaan baru bagi kemandirian ekonomi kampus sehingga tidak bergantung pada UKT,” ujarnya.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lampung Barat, Syafaruddin, yang juga merupakan alumni Unila.

Ia menilai langkah Budiono mengajak alumni terlibat dalam pembangunan kampus merupakan strategi visioner. Menurut Syafaruddin, pemimpin perguruan tinggi harus mampu mencari berbagai peluang untuk memajukan institusi tanpa mengabaikan ketentuan yang berlaku.

“Wah itu strategi yang top dan memang seorang pemimpin harus berpikir demikian, berpikir segala cara tanpa memotong regulasi demi kemajuan bersama,” kata Syafaruddin.

Budiono Dinilai Terbuka terhadap Masukan

Dukungan juga datang dari Budiharjo, mantan jurnalis Lampung Post yang kini berprofesi sebagai dosen dan merupakan alumni Unila.

Budiharjo mengaku pernah bekerja bersama Budiono ketika keduanya menjadi tenaga ahli Gubernur Lampung. Saat itu, Budiharjo bertugas sebagai staf ahli bidang politik, sedangkan Budiono menangani bidang hukum.

Dari pengalaman tersebut, Budiharjo menilai Budiono merupakan sosok yang terbuka terhadap masukan dan tidak hanya memandang persoalan dari sudut pandang struktural, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan masyarakat.

“Waktu jadi tenaga ahli kita sering berdiskusi untuk kemajuan Provinsi Lampung. Beliau terbuka terhadap masukan dan selalu berpikir bagaimana regulasi itu bukan hanya untuk kepentingan daerah, tapi bagaimana regulasi itu tidak memberatkan dan menjerat masyarakat dalam pembangunan,” tutur Budiharjo.

Menurutnya, pola pikir tersebut menjadi modal penting apabila diterapkan dalam kepemimpinan perguruan tinggi, terutama dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada mahasiswa.

Salah satu contoh yang disampaikan Budiono dalam pemaparan visi dan misi adalah penyediaan fasilitas komputer dan televisi digital di ruang kelas agar proses pembelajaran lebih efektif dan mendukung kerja kelompok mahasiswa.

Budiono menyebut fasilitas tersebut telah disediakan di ruang-ruang kelas Fakultas Hukum Unila.

“Di Fakultas Hukum itu tiap ruangan saya sudah berikan komputer, televisi supaya pembelajaran itu bisa berlangsung baik dan mahasiswa bisa menikmati juga. Bukan hanya peminjaman, tapi di ruang-ruang kelas itu sudah tersedia komputer dan televisinya. Jadi saya sangat selalu membela kepentingan mahasiswa karena kalau tidak ada mahasiswa bagaimana universitas ini juga bisa berdiri,” tegas Budiono.

Berbagai gagasan tersebut menjadi bagian dari alasan sejumlah alumni menyatakan dukungan terhadap Budiono. Mereka berharap pengalaman, jaringan, serta kedekatannya dengan almamater dapat menjadi modal untuk membawa Unila lebih maju.

Kini, harapan alumni tersebut diarahkan kepada Mendiktisaintek agar turut mempertimbangkan aspirasi keluarga besar Unila dalam menentukan rektor periode 2027–2031.***