SKYSHI MEDIA – Siapa sangka, laci yang terlihat kecil dan sederhana bisa menyimpan cerita tentang bagaimana seseorang mengatur hidupnya. Dari meja kerja hingga dapur, seni menata barang di laci bukan hanya soal kerapihan, tapi juga efisiensi dan kenyamanan.
Seringkali, laci menjadi tempat “serba ada” yang berakhir berantakan. Pulpen, kabel, kosmetik, hingga alat dapur bercampur tanpa aturan. Akibatnya, waktu terbuang hanya untuk mencari satu benda kecil. Di sinilah pentingnya menguasai seni mengatur laci: menciptakan sistem agar setiap barang punya tempatnya.
Banyak orang kini menggunakan divider atau kotak penyekat untuk memisahkan barang sesuai kategori. Misalnya, laci dapur dipisah untuk sendok, garpu, dan pisau. Sementara di meja kerja, alat tulis, kabel, dan dokumen kecil bisa diberi ruang khusus. Hasilnya? Bukan hanya rapi di mata, tapi juga memudahkan aktivitas sehari-hari.
Lebih dari sekadar praktis, laci yang tertata juga bisa memberi efek psikologis. Ruang yang teratur menciptakan rasa tenang dan membantu otak lebih fokus. Tak heran, metode organisasi ala KonMari hingga tren minimalis kerap menekankan pentingnya menata ruang kecil, termasuk laci.
Jadi, mulai sekarang jangan anggap remeh laci yang ada di rumah atau kantor. Dengan penataan sederhana, laci bisa menjadi simbol bagaimana kita mengelola hidup: rapi, teratur, dan lebih efisien.***
