SKYSHI MEDIA – Ketegangan ekonomi dunia kian terasa sejak perang dagang global memanas. Persaingan tarif, embargo, dan kebijakan proteksionis yang dilancarkan negara-negara besar tidak hanya mengguncang pasar internasional, tetapi juga memberi imbas langsung pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
Salah satu dampak paling nyata adalah fluktuasi harga komoditas ekspor seperti kelapa sawit, karet, dan batubara. Permintaan yang menurun akibat melemahnya daya beli global membuat harga komoditas anjlok, memukul petani dan pengusaha kecil. Di sisi lain, industri manufaktur Indonesia menghadapi tantangan serius dengan meningkatnya harga bahan baku impor serta persaingan produk asing yang lebih murah masuk ke pasar lokal.
Namun, di balik tantangan, terbuka pula peluang. Indonesia bisa memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pasar domestik dan memperluas kerja sama dengan negara-negara nontradisional. Misalnya, mempererat hubungan dagang dengan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika yang mulai menjadi pasar potensial. Selain itu, dorongan untuk memperkuat industri hilir dan produk bernilai tambah dapat menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.
Para ekonom menilai, perang dagang global seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mendorong kemandirian ekonomi, memperbaiki regulasi investasi, serta meningkatkan daya saing produk lokal. Dengan strategi tepat, krisis global ini bisa bertransformasi menjadi peluang jangka panjang.***
