SKYSHI MEDIA – Kopi bukan sekadar minuman penunda kantuk, melainkan komoditas global yang menggerakkan roda ekonomi dari desa terpencil hingga pasar internasional. Indonesia, sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, memiliki peran penting dalam rantai pasok kopi yang menghubungkan petani, pelaku industri, hingga konsumen di seluruh penjuru dunia.
Di balik secangkir kopi yang kita nikmati, ada perjalanan panjang dari kebun ke cangkir. Petani di dataran tinggi Gayo, Toraja, atau Kintamani bekerja keras merawat pohon kopi, memanen biji merah yang matang, lalu melalui proses pascapanen yang menentukan cita rasa. Proses inilah yang menjadi pondasi ekonomi kopi di tingkat lokal, di mana ribuan keluarga menggantungkan hidup pada hasil panen.
Namun, perjalanan kopi tak berhenti di kebun. Biji kopi kemudian masuk ke jaringan perdagangan global. Di kota-kota besar dunia, kopi menjadi bisnis bernilai miliaran dolar. Dari kafe independen hingga jaringan internasional, kopi telah bertransformasi menjadi gaya hidup dan simbol budaya.
Meski demikian, industri kopi menghadapi tantangan besar, mulai dari fluktuasi harga dunia, perubahan iklim yang mengancam produktivitas, hingga kesejahteraan petani kecil. Inovasi dan kolaborasi menjadi kunci: sertifikasi fair trade, tren kopi spesialti, hingga teknologi roasting modern yang mendukung keberlanjutan rantai pasok.
Kopi bukan hanya cerita tentang rasa, melainkan juga tentang keadilan ekonomi, budaya, dan identitas. Dari kebun yang sunyi hingga hiruk pikuk pasar global, kopi terus menjadi penghubung antarbangsa dan simbol dinamika ekonomi dunia.***
