SKYSHI MEDIA – Pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah dinamika ekonomi global. Dengan jumlah investor ritel yang terus meningkat, khususnya dari kalangan milenial dan Gen Z, pasar modal tak lagi hanya dianggap sebagai arena eksklusif bagi para pemodal besar. Namun, di balik peluang tersebut, tantangan besar juga ikut menghantui.
Salah satu tantangan utama adalah volatilitas pasar yang dipicu oleh ketidakpastian global, mulai dari perubahan suku bunga bank sentral dunia, fluktuasi harga komoditas, hingga geopolitik internasional. Investor lokal sering kali harus menghadapi risiko tinggi akibat gejolak eksternal yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait edukasi investor. Masih banyak masyarakat yang terjebak pada tren jangka pendek atau “ikut-ikutan” tanpa pemahaman mendalam soal analisis fundamental maupun teknikal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pun gencar melakukan kampanye literasi keuangan agar pasar modal tumbuh lebih sehat.
Meski demikian, harapan tetap terbuka lebar. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang positif, program hilirisasi industri, serta dorongan terhadap sektor energi hijau dan teknologi, pasar modal diprediksi akan menjadi motor penting dalam pembiayaan pembangunan. Masuknya perusahaan teknologi besar ke bursa juga dipandang mampu menarik investor baru.
Ke depan, kunci dari keberhasilan pasar modal Indonesia adalah keseimbangan antara regulasi yang sehat, edukasi berkelanjutan, dan partisipasi aktif masyarakat. Jika semua pihak mampu menjaga kepercayaan publik, pasar modal Indonesia bukan hanya bisa bertahan menghadapi gejolak, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.***
