SKYSHI MEDIA – Isu keberlanjutan kini bukan lagi sekadar jargon, melainkan menjadi bagian penting dalam dunia bisnis. Dari produk fesyen, kuliner, hingga teknologi, semakin banyak perusahaan yang berlomba mengusung konsep ramah lingkungan. Namun, pertanyaan yang muncul: apakah ini sekadar tren pemasaran, atau benar-benar kebutuhan mendesak bagi masa depan bumi?
Faktanya, kesadaran konsumen semakin meningkat. Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, cenderung lebih memilih produk yang peduli pada lingkungan. Mulai dari kemasan daur ulang, pengurangan plastik sekali pakai, hingga energi terbarukan menjadi nilai tambah yang menentukan daya saing sebuah brand.
Di sisi lain, regulasi pemerintah juga semakin ketat. Banyak negara, termasuk Indonesia, mendorong perusahaan untuk menekan jejak karbon dan menerapkan praktik berkelanjutan. Artinya, bisnis ramah lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Tidak sedikit perusahaan kecil menganggap konsep ini membebani biaya produksi. Padahal, jika dikelola dengan tepat, strategi ramah lingkungan justru bisa membuka peluang baru, menekan biaya jangka panjang, dan memperkuat loyalitas konsumen.
“Bisnis hijau bukan hanya tentang tren. Ini tentang bagaimana perusahaan bertahan dalam jangka panjang. Lingkungan yang sehat adalah fondasi ekonomi yang sehat,” ujar seorang pakar ekonomi berkelanjutan.
Fenomena ini menunjukkan, bisnis ramah lingkungan adalah titik temu antara tren dan kebutuhan. Ia menjadi bukti bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari strategi bisnis yang tak terhindarkan.**













