SKYSHI MEDIA – Menjelajahi dunia bukan hanya soal menikmati pemandangan indah atau mengunjungi landmark populer. Bagi generasi muda masa kini, perjalanan terasa kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner khas setiap daerah. Fenomena ini dikenal sebagai “traveling sambil kulineran”, tren yang semakin populer karena dianggap sebagai cara paling otentik untuk memahami budaya lokal.
Menurut laporan riset perjalanan terbaru yang dirilis Skyshi, platform rekomendasi lifestyle dan travel, wisata kuliner kini menjadi prioritas utama bagi wisatawan, bahkan lebih tinggi dibanding sekadar berbelanja suvenir. “Makanan adalah pintu masuk menuju budaya. Dari satu gigitan saja, kita bisa memahami sejarah, tradisi, hingga nilai kehidupan masyarakat setempat,” ungkap tim riset Skyshi.
Contohnya, ketika pelancong berkunjung ke Yogyakarta, pengalaman mencicipi gudeg tidak hanya sekadar soal rasa manis dan gurih, tapi juga tentang filosofi kesederhanaan dan keramahan orang Jawa. Di luar negeri, mencicipi ramen otentik di Jepang atau tapas di Spanyol bisa membuka perspektif baru tentang cara masyarakat setempat menghargai kebersamaan.
Selain itu, traveling sambil kulineran juga dianggap lebih berkelanjutan. Wisatawan dapat mendukung usaha kecil, restoran lokal, hingga pasar tradisional, yang pada akhirnya memperkuat ekonomi komunitas setempat.
Skyshi memprediksi tren ini akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang. Bukan hanya karena orang ingin berfoto dengan makanan Instagramable, tetapi karena kuliner telah menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan budaya. Seperti kata pepatah, “cara terbaik mengenal sebuah tempat adalah dengan mencicipi makanannya.”***
