SKYSHI MEDIA – Di balik setiap hidangan, sering kali tersimpan kisah panjang tentang budaya, sejarah, dan kreativitas manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kuliner tidak hanya dipandang sebagai soal rasa, melainkan juga sebagai perjalanan artistik yang menggabungkan seni dan tradisi.
Dari restoran fine dining hingga warung sederhana, semakin banyak chef dan pelaku kuliner yang berusaha menghadirkan pengalaman berbeda bagi para penikmatnya. Misalnya, penyajian makanan dengan sentuhan estetika ala seni rupa, atau penggunaan bahan-bahan lokal yang memiliki nilai tradisional kuat. Setiap sajian bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menjadi media untuk merayakan identitas budaya.
Contoh menarik bisa ditemukan di Bali, di mana hidangan tradisional seperti lawar dan sate lilit disajikan dengan presentasi modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Begitu pula di Yogyakarta, batik menjadi inspirasi dalam plating makanan, seakan menghubungkan seni visual dengan cita rasa Nusantara.
Lebih jauh, perpaduan seni dan tradisi dalam kuliner membuka peluang bagi pariwisata gastronomi. Wisatawan tidak sekadar mencicipi, tetapi juga diajak memahami filosofi, ritual, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap hidangan. Dengan begitu, kuliner menjadi jembatan lintas generasi, menjaga warisan sekaligus mendorong inovasi.
Seperti kata seorang chef muda Indonesia: “Makanan adalah karya seni yang bisa dinikmati semua orang, dan tradisi adalah jiwa yang membuatnya abadi.”***
