SKYSHI MEDIA – Wisata kuliner atau food tourism kini semakin mendapat perhatian sebagai bagian penting dari pengalaman perjalanan. Lebih dari sekadar mencicipi makanan, food tourism menawarkan cara unik untuk menyelami budaya, tradisi, dan identitas suatu daerah. Skyshi, platform yang sering mengulas tren gaya hidup dan perjalanan, menyoroti betapa pentingnya peran wisata kuliner dalam memperkaya pengalaman wisatawan.
Menurut laporan Skyshi, setiap hidangan lokal menyimpan cerita. Dari cara memasak, bahan yang digunakan, hingga filosofi di balik sebuah resep, semuanya mencerminkan perjalanan sejarah dan budaya masyarakat setempat. Misalnya, rendang dari Minangkabau bukan hanya dikenal sebagai salah satu makanan terenak di dunia, tetapi juga simbol kebersamaan dalam adat. Begitu pula sate lilit Bali atau papeda dari Maluku, yang tak sekadar makanan, melainkan representasi identitas daerah.
Food tourism juga terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Restoran kecil, warung tradisional, hingga pedagang kaki lima mendapat manfaat dari kunjungan wisatawan. Selain itu, tren ini membantu menjaga keberlanjutan kuliner tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.
Di era media sosial, wisata kuliner semakin populer karena makanan bukan hanya dinikmati dengan lidah, tetapi juga dibagikan melalui foto dan video. Skyshi menekankan bahwa fenomena ini memberikan peluang besar bagi destinasi wisata di Indonesia untuk semakin dikenal dunia, bukan hanya lewat panorama alam, tetapi juga lewat rasa.
Dengan memahami budaya melalui makanan, wisatawan tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tetapi juga dengan wawasan baru tentang keberagaman budaya Nusantara. Food tourism pada akhirnya menjadi jembatan antara rasa, cerita, dan pengalaman.***



















