SKYSHI MEDIA – Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebuah hidangan diberi nama tertentu? Dalam dunia kuliner, nama menu bukan sekadar penanda, melainkan bagian dari identitas, sejarah, bahkan strategi pemasaran yang mampu membuat orang penasaran.
Ambil contoh Nasi Kucing dari Yogyakarta. Meski namanya terdengar unik, hidangan ini tidak ada hubungannya dengan kucing. Porsi kecilnya yang seukuran porsi makan kucing menjadi alasan penamaan tersebut. Begitu juga dengan Martabak Bangka, yang menandai asal usul daerah pembuatnya, sekaligus menjaga citra otentisitas rasa.
Di belahan dunia lain, nama menu juga sering terikat dengan kisah. Caesar Salad misalnya, bukan berasal dari kaisar Romawi, melainkan dari seorang koki bernama Caesar Cardini di Meksiko pada 1924. Sementara Sandwich dinamai dari Earl of Sandwich, bangsawan Inggris yang gemar menyantap roti berlapis daging agar bisa tetap bermain kartu tanpa repot.
Menariknya, dalam industri kuliner modern, nama menu tak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga strategi branding. Restoran kekinian sering menggunakan nama kreatif, lucu, atau nyeleneh untuk menarik perhatian pelanggan, terutama di media sosial. Nama yang unik membuat orang lebih mudah mengingat sekaligus mendorong rasa ingin tahu.
Setiap menu kuliner ikonik menyimpan kisah, baik dari tradisi, legenda, hingga strategi dagang. Dengan memahami cerita di balik nama, pengalaman menyantap makanan jadi terasa lebih kaya, seakan kita turut menikmati potongan sejarah di setiap gigitan.***
