SKYSHI MEDIA – Teknologi hologram yang dulu hanya dianggap fantasi dalam film fiksi ilmiah, kini mulai merambah ke berbagai aspek kehidupan nyata. Dari panggung konser hingga ruang rapat perusahaan, hologram menjadi medium baru yang mengubah cara manusia berinteraksi.
Di dunia hiburan, hologram memungkinkan musisi legendaris yang sudah tiada kembali “manggung” di hadapan penggemar. Konser hologram seperti ini memberikan pengalaman emosional unik, di mana penonton seolah benar-benar menyaksikan sang idola tampil secara langsung. Fenomena ini tidak hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga membuka peluang bisnis baru di industri musik.
Tak hanya di panggung hiburan, teknologi hologram juga masuk ke ranah profesional. Rapat virtual dengan hologram menghadirkan pengalaman yang jauh lebih imersif dibanding sekadar video conference. Bayangkan seorang CEO yang berada di New York bisa muncul dalam bentuk hologram 3D di ruang rapat Jakarta, seolah duduk bersama timnya.
Sektor pendidikan pun mulai melirik teknologi ini. Dosen bisa mengajar mahasiswa dari jarak ribuan kilometer, atau dokter bedah dapat melakukan pelatihan dengan proyeksi hologram organ tubuh manusia secara detail. Hal ini jelas memberikan manfaat besar, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelatihan.
Meski menjanjikan, adopsi teknologi hologram masih menghadapi tantangan. Dari segi biaya yang tinggi, infrastruktur jaringan, hingga kesiapan masyarakat menerima bentuk interaksi baru. Namun, dengan perkembangan pesat 5G dan kecerdasan buatan, tidak menutup kemungkinan hologram akan segera menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Teknologi hologram adalah jembatan masa depan. Ia mengaburkan batas fisik, menciptakan ruang baru untuk kreativitas, komunikasi, dan konektivitas tanpa sekat.***













