SKYSHI MEDIA – Bayangkan menyantap burger lezat tanpa harus menyembelih hewan, atau menikmati susu segar tanpa sapi di peternakan. Inilah kenyataan baru yang sedang dibawa oleh revolusi bioteknologi: makanan buatan laboratorium atau lab-grown food.
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi pangan ini berkembang pesat dan mulai dilirik sebagai solusi masa depan. Bukan hanya untuk menjawab isu lingkungan, tetapi juga sebagai jawaban atas kebutuhan pangan global yang terus meningkat.
Mengapa makanan buatan lab jadi tren?
Pertama, faktor sustainability. Produksi daging konvensional membutuhkan lahan, air, dan energi dalam jumlah besar serta menghasilkan emisi karbon tinggi. Dengan bioteknologi, daging bisa dikembangkan dari sel hewan tanpa memerlukan peternakan masif.
Kedua, aspek kesehatan. Makanan buatan lab dapat dikontrol kandungan nutrisinya, bahkan bisa dibuat lebih sehat dengan mengurangi lemak jenuh atau menambahkan nutrisi tertentu.
Ketiga, soal etika. Bagi sebagian orang, konsumsi daging sering menimbulkan dilema moral. Lab-grown meat dianggap sebagai solusi untuk menikmati protein hewani tanpa harus menyakiti makhluk hidup.
Namun, tentu masih ada tantangan besar. Harga produksi masih mahal, regulasi ketat, serta kepercayaan konsumen yang perlu dibangun. Meski begitu, beberapa negara seperti Singapura dan Amerika Serikat sudah mulai memberi izin terbatas untuk produk ini.
Para pakar meyakini, dalam satu dekade mendatang, makanan buatan lab bisa menjadi bagian dari menu sehari-hari. Sama seperti dulu kita meragukan susu kedelai atau daging nabati, kini bioteknologi siap mengubah cara kita memandang makanan.
Apakah kita siap menyambut masa depan di mana makanan dari laboratorium hadir di meja makan?***













