SKYSHI MEDIA – Apakah manusia sendirian di alam semesta? Pertanyaan ini sudah lama menghantui para ilmuwan dan penggemar sains. Dalam upaya menjawabnya, penelitian mengenai kemungkinan adanya kehidupan mikroba di planet lain menjadi salah satu fokus utama eksplorasi luar angkasa.
Bukti awal sering ditemukan dalam bentuk jejak kimia, es air, hingga kondisi lingkungan yang mirip dengan Bumi. Mars, misalnya, menjadi kandidat utama karena pernah memiliki air dalam jumlah besar miliaran tahun lalu. Penemuan metana di atmosfernya sempat menimbulkan spekulasi, karena gas tersebut bisa berasal dari aktivitas biologis.
Selain Mars, bulan Europa milik Jupiter dan Enceladus milik Saturnus juga menarik perhatian. Di bawah lapisan es tebalnya, terdapat lautan air asin yang dipanaskan oleh aktivitas geotermal. Lingkungan seperti ini di Bumi mampu mendukung kehidupan mikroba ekstrem, sehingga besar kemungkinan hal serupa terjadi di sana.
Namun, hingga kini, bukti langsung keberadaan mikroba luar bumi belum ditemukan. Tantangan besar terletak pada keterbatasan teknologi untuk mengebor es tebal, menganalisis sampel, atau membawa material kembali ke Bumi tanpa kontaminasi.
Meski misteri ini masih belum terpecahkan, pencarian terus dilakukan. Setiap misi baru dari NASA, ESA, maupun lembaga antariksa lain membawa kita semakin dekat pada jawaban. Apabila suatu saat ditemukan, keberadaan mikroba di luar Bumi akan menjadi revolusi besar dalam sejarah sains, bahkan mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan di alam semesta.***













