SKYSHI MEDIA – Sejak dulu, manusia selalu terpesona oleh gagasan hidup abadi. Dari mitologi kuno hingga penelitian modern, pertanyaan tentang mungkinkah umur panjang tanpa batas terus menggugah rasa ingin tahu. Kini, sains mulai menyingkap lapisan misteri itu lewat penelitian genetik dan bioteknologi.
Para ilmuwan menemukan bahwa telomer, bagian kecil di ujung kromosom, memegang peran penting dalam proses penuaan. Setiap kali sel membelah, telomer semakin pendek, hingga akhirnya memicu kerusakan sel yang identik dengan penuaan. Menariknya, ada organisme tertentu—seperti ubur-ubur Turritopsis dohrnii yang dikenal sebagai “ubur-ubur abadi”—mampu memperbarui sel mereka tanpa batas.
Pertanyaannya: apakah manusia bisa melakukan hal yang sama? Penelitian tentang gen anti-penuaan, terapi sel punca, hingga rekayasa genetik CRISPR membuka jalan menuju pemahaman baru tentang perpanjangan umur. Namun, di balik harapan tersebut, muncul pula dilema etika: apakah hidup selamanya benar-benar membawa kebahagiaan, atau justru tantangan baru bagi peradaban?
Misteri gen abadi masih menjadi teka-teki besar. Walau sains menawarkan harapan memperpanjang usia, konsep hidup selamanya bukan hanya soal biologi, melainkan juga tentang makna hidup itu sendiri.***













