SKYSHI MEDIA – Di era digital, layar gadget sudah menjadi teman setia hampir setiap orang, dari pagi hingga larut malam. Namun, para ahli kesehatan kian gencar mengingatkan soal bahaya cahaya biru (blue light) yang dipancarkan layar ponsel, laptop, hingga televisi. Misterinya, mengapa cahaya biru bisa begitu mengganggu kualitas tidur kita?
Penelitian menunjukkan bahwa cahaya biru menekan produksi melatonin, hormon alami tubuh yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, otak menjadi “tertipu” seolah masih siang, meski waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kondisi ini membuat seseorang sulit merasa mengantuk, bahkan bisa berujung pada insomnia jika terus berulang.
Gangguan tidur ini bukan sekadar masalah lelah di pagi hari. Kualitas tidur yang buruk dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, hingga meningkatkan risiko penyakit jangka panjang seperti diabetes dan gangguan jantung.
Sebagai solusi, para pakar menyarankan beberapa langkah sederhana: mengurangi paparan layar minimal satu jam sebelum tidur, menggunakan fitur night mode atau blue light filter, serta beralih ke aktivitas santai seperti membaca buku fisik atau meditasi.
Cahaya biru memang tak terlihat berbahaya layaknya radiasi, namun dampaknya nyata bagi kesehatan tubuh. Kini, pertanyaannya: beranikah kita “meletakkan layar” demi tidur yang lebih nyenyak?***













