SKYSHI MEDIA – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia komunikasi. Salah satu yang paling menonjol adalah hadirnya mesin penerjemah berbasis AI yang semakin canggih dan akurat. Google Translate, DeepL, hingga aplikasi penerjemah real-time kini mampu menerjemahkan percakapan lintas bahasa hanya dalam hitungan detik. Pertanyaannya, apakah ini berarti bahasa akan menjadi universal di masa depan?
Di satu sisi, mesin penerjemah AI membuka peluang besar untuk menghubungkan manusia tanpa batas bahasa. Wisatawan bisa berinteraksi dengan mudah di negara asing, pebisnis lintas benua bisa berkomunikasi tanpa hambatan, bahkan pelajar dapat mengakses literatur internasional tanpa harus menunggu terjemahan manual.
Namun, di sisi lain, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga representasi budaya, identitas, dan cara berpikir suatu masyarakat. AI mungkin mampu menerjemahkan kata demi kata, tetapi tidak selalu bisa menangkap konteks, nuansa emosi, atau makna kultural yang terkandung di balik bahasa tersebut.
Para ahli bahasa menilai, mesin penerjemah AI lebih tepat dipandang sebagai jembatan, bukan pengganti bahasa asli. Dengan kata lain, teknologi ini bisa membantu mempererat interaksi global, tetapi keunikan bahasa lokal tetap akan menjadi bagian penting dari keberagaman dunia.
Jadi, meskipun mesin penerjemah AI membuat komunikasi lintas bahasa semakin mudah, kemungkinan terciptanya satu bahasa universal tampaknya masih jauh dari kenyataan. Dunia justru akan terus bergerak dalam harmoni antara teknologi dan kekayaan bahasa yang berbeda.***













