SKYSHI MEDIA – Fenomena kecerdasan buatan (AI) kini merambah dunia sastra. Jika dulu penulis novel identik dengan proses panjang penuh riset, imajinasi, dan pengalaman batin, kini hadir teknologi AI yang mampu menyusun plot, merangkai dialog, bahkan menciptakan karakter layaknya karya manusia. Pertanyaannya, apakah kreativitas benar-benar bisa ditiru oleh mesin?
Beberapa platform AI sudah terbukti dapat menghasilkan naskah novel hanya dalam hitungan jam. Dengan memanfaatkan data dari ribuan buku yang pernah dipublikasikan, AI mampu mengenali pola penulisan, gaya bahasa, hingga alur cerita populer. Hasilnya, teks yang dihasilkan terasa “hidup” dan seolah lahir dari pikiran seorang penulis berpengalaman.
Namun, perdebatan pun muncul. Bagi sebagian pengamat sastra, kreativitas sejati bukan hanya tentang menyusun kata, melainkan juga pengalaman emosional, intuisi, dan kedalaman rasa yang sulit didefinisikan. AI mungkin mampu meniru pola, tetapi apakah ia benar-benar mengalami penderitaan, cinta, atau kegelisahan yang biasanya menjadi bahan bakar lahirnya sebuah karya?
Meski begitu, banyak juga penulis yang melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kolaborator. Dengan bantuan AI, mereka bisa mempercepat riset, mendapatkan ide cerita, atau bahkan bereksperimen dengan gaya penulisan baru. AI bisa menjadi “asisten kreatif”, sementara sentuhan manusia tetap menjadi jiwa dari sebuah novel.
Sastra selalu berkembang seiring zaman. Mungkin di masa depan, kita akan melihat semakin banyak novel hasil kolaborasi antara manusia dan mesin. Tetapi satu hal yang pasti: peran manusia tetap penting, sebab kreativitas bukan hanya tentang kata-kata, melainkan juga tentang pengalaman yang menghidupkan kata itu sendiri.***
