SKYSHI MEDIA – Dalam dunia bisnis yang serba cepat, identitas merek tidak bisa dibiarkan berjalan di tempat. Agar tetap relevan dengan pasar, perusahaan kerap melakukan dua strategi: rebranding dan refreshing brand. Meski terdengar mirip, keduanya punya perbedaan signifikan yang penting dipahami sebelum dipilih sebagai langkah strategis.
Rebranding adalah perubahan besar yang menyentuh fondasi identitas sebuah merek. Biasanya dilakukan ketika perusahaan ingin mengubah visi, misi, nilai, hingga target pasar. Contohnya, perubahan nama, logo, hingga positioning baru di mata konsumen. Rebranding identik dengan transformasi menyeluruh untuk memberikan citra baru yang segar dan berbeda dari sebelumnya.
Sementara itu, refreshing brand lebih bersifat penyegaran, bukan perombakan total. Strategi ini dilakukan untuk menjaga agar merek tetap relevan dengan tren tanpa mengubah inti identitasnya. Misalnya, memperbarui desain logo agar terlihat modern, mempercantik kemasan produk, atau menyegarkan gaya komunikasi di media sosial.
Secara sederhana, rebranding adalah revolusi, sedangkan refreshing brand adalah evolusi. Perusahaan memilih rebranding jika ingin mengubah arah bisnis secara fundamental. Sedangkan refreshing brand dipilih ketika bisnis masih berjalan sesuai jalurnya, namun butuh pembaruan agar tetap menarik di mata konsumen.
Kedua strategi ini sama-sama penting, tergantung kebutuhan bisnis. Namun yang paling krusial adalah memahami pesan apa yang ingin disampaikan kepada konsumen, serta bagaimana langkah tersebut mendukung tujuan jangka panjang perusahaan.***
