SKYSHI MEDIA- Pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Tidak selalu pula harus melalui buku, papan tulis, dan deretan bangku sekolah.
Di halaman kampus, melalui kerja sama, kedisiplinan, keberanian dan kebersamaan, pendidikan karakter justru dapat tumbuh melalui pengalaman nyata.
Semangat itulah yang terlihat dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) serta Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Universitas Ma’arif Lampung yang berlangsung pada 5 hingga 7 September 2026.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian berlangsung pada 6 September 2026. Racana KH Hasyim Asy’ari dan Hj Siti Khodijah berkolaborasi dengan Pramuka Ambalan KH Wahab Chasbullah dan Hj Fatimah SMK Ma’arif 1 Metro.
Kolaborasi tersebut menghadirkan semangat kepramukaan di tengah rangkaian kegiatan mahasiswa dan menjadi ruang belajar baru bagi para pelajar.
Bagi Kepala SMK Ma’arif 1 Metro, Andri Saputra, keterlibatan para siswa bukan sekadar penampilan dalam sebuah kegiatan.
Menurutnya, ada proses pendidikan karakter yang berlangsung di balik setiap persiapan dan penampilan. Mulai dari keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, hingga pengalaman berinteraksi dengan lingkungan pendidikan yang lebih luas.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar melalui pengalaman, kerja sama, kedisiplinan, dan keberanian untuk tampil di ruang publik,” kata Andri Saputra, Jumat (11/9/2026).
Belajar Melampaui Ruang Kelas
Pramuka sejak lama menjadi salah satu wadah pendidikan karakter bagi generasi muda.
Melalui berbagai kegiatan, para siswa belajar mengambil peran, mendengarkan orang lain, bekerja dalam kelompok hingga menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan siswa SMK Ma’arif 1 Metro dalam kegiatan Universitas Ma’arif Lampung menjadi pengalaman yang memiliki nilai tersendiri.
Mereka hadir bukan hanya sebagai perwakilan sekolah, tetapi juga membawa identitas Ambalan KH Wahab Chasbullah dan Hj Fatimah serta nilai-nilai kepramukaan yang telah dibangun bersama.
Kolaborasi dengan Racana KH Hasyim Asy’ari dan Hj Siti Khodijah juga membuka ruang interaksi yang lebih luas.
Para siswa berkesempatan mengenal lingkungan pendidikan tinggi dan berinteraksi dengan mahasiswa serta peserta kegiatan lainnya.
Di sinilah proses belajar menemukan bentuknya yang lebih nyata.
Bertemu, bekerja sama, beradaptasi, kemudian belajar dari pengalaman.
Andri Saputra menilai pengalaman semacam ini penting bagi siswa sekolah kejuruan.
Menurutnya, pendidikan vokasi tidak hanya berbicara mengenai keterampilan teknis, tetapi juga harus membangun karakter, kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan kemampuan beradaptasi.
“Anak-anak perlu diberikan ruang untuk mengembangkan potensi mereka. Kegiatan seperti ini memberikan pengalaman nyata bagaimana mereka bekerja sama dan berinteraksi dengan orang lain,” ujarnya.
Dari Panggung Menuju Kehidupan
Penampilan yang berlangsung pada 6 September tersebut memang hanya menjadi satu bagian dari rangkaian kegiatan PBAK dan MAPABA Universitas Ma’arif Lampung.
Namun, pendidikan tidak selalu dapat diukur dari berapa lama sebuah kegiatan berlangsung.
Hal yang lebih penting adalah pengalaman dan nilai yang dibawa pulang oleh setiap peserta.
Bagi sebagian siswa, kegiatan tersebut mungkin menjadi pengalaman untuk membangun rasa percaya diri.
Bagi yang lain, kegiatan itu bisa menjadi kesempatan menemukan keberanian untuk tampil di hadapan banyak orang.
Ada pula pelajaran tentang pentingnya latihan, kedisiplinan, pembagian tugas dan kepercayaan kepada anggota tim.
Di situlah kegiatan Pramuka menjadi pendidikan yang hidup.
Pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan ruang kelas.
Kadang, ia tumbuh di halaman kampus, di tengah barisan peserta, dalam kerja sama sebuah kelompok, suara tepuk tangan, hingga keberanian seorang pelajar untuk berdiri dan mengambil peran.
Bagi SMK Ma’arif 1 Metro, keterlibatan dalam kegiatan Universitas Ma’arif Lampung menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar bagi para siswa.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang mampu diingat.
Pendidikan juga tentang seberapa siap seseorang berdiri, bekerja sama, mengambil tanggung jawab dan membawa nilai-nilai yang dipelajari ke tengah kehidupan.***



















