Dari Imaji Absurd ke Kritik Moral, Menyelami “Hantam Goblok yang Kejam”

banner 468x60

SKYSHI MEDIA- Puisi “Hantam Goblok yang Kejam” (2025) merupakan karya dari seorang pujangga berbakat Indonesia, penyair generasi baru, sekaligus sastrawan pemikir: Muhammad Alfariezie yang menampilkan wajah satire paling pahit dalam tradisi kritik sastra.

Ia tidak hadir sebagai renungan yang lirih atau simbolisme yang halus, melainkan sebagai ledakan kemarahan yang telanjang.

banner 336x280

Dengan diksi yang kasar, imaji yang absurd, serta logika yang sengaja dipelintir, puisi ini berdiri kokoh dalam kerangka satire Juvenalian—sebuah bentuk satire yang menolak kompromi dan memilih menghantam langsung objek kritiknya.

Hantam Goblok yang Kejam

Hujan banjir di provinsi
ini mungkin karena kadis
dan kepsek mengisap
ganja dan menenggak
vodka sambil bernyanyi
mengiring gubernur dan
wali kota bergumul di
markas hukum

Imbasnya rakyat lapar
menderita karena bujang
gadis enggam mampu
apa-apa kecuali bergitar
dan berdansa sembari
melinting serta giginya
membuka hasrat gila

Lantas ke mana ibu dan
bapak berbahagia
kecuali di dalam tanah
setelah tenggelam-
menghantam goblok
yang kejam

2025

Berakar dari tradisi yang diasosiasikan dengan Juvenal, satire Juvenalian dikenal karena nadanya yang keras, sinis, dan penuh kemarahan moral.

Dalam konteks ini, puisi tersebut tidak sekadar menyindir, melainkan menghakimi. Ia menghadirkan dunia yang telah rusak secara etik, di mana kekuasaan tidak lagi menjadi alat kesejahteraan, tetapi berubah menjadi panggung dekadensi.

Sejak bait awal, puisi ini langsung melontarkan serangan terhadap figur-figur otoritas:

“kadis dan kepsek mengisap ganja
dan menenggak vodka…”

Baris ini tidak dimaksudkan sebagai representasi realitas literal, melainkan sebagai hiperbola yang mengandung muatan simbolik.

Pejabat digambarkan tenggelam dalam perilaku hedonistik dan tidak bermoral.

Dalam perspektif satire Juvenalian, penggambaran semacam ini berfungsi sebagai moral denunciation, yakni upaya menelanjangi kebusukan elite secara terang-terangan tanpa ruang pembelaan.

Lebih jauh, puisi ini memperlihatkan distorsi hubungan sebab-akibat melalui pernyataan:

“Hujan banjir di provinsi ini mungkin karena…”

Relasi antara banjir dan perilaku pejabat tentu bersifat absurd secara logika.

Namun justru di situlah kekuatan satirnya bekerja.

Realitas dipelintir untuk menunjukkan bahwa dalam sistem yang korup, bahkan bencana alam pun terasa seperti konsekuensi dari kebobrokan moral.

Ini bukan soal rasionalitas, melainkan soal intensitas kritik: dunia telah sedemikian rusak hingga logika pun kehilangan pijakan.

Tidak hanya elite yang menjadi sasaran, puisi ini juga memotret kondisi rakyat:
“rakyat lapar menderita…
kecuali bergitar dan berdansa…”

Rakyat digambarkan sebagai kelompok yang tidak berdaya, terjebak dalam pelarian dan kehilangan arah.

Dalam kerangka Juvenalian, ini bukan bentuk penyalahkan semata, melainkan refleksi dari kerusakan sosial yang menyeluruh.

Ketika sistem runtuh, bukan hanya penguasa yang rusak, tetapi juga masyarakat yang terjebak di dalamnya.

Puncak puisi ini hadir dalam larik:
“menghantam goblok yang kejam”
Diksi kasar tersebut bukanlah kelemahan estetik, melainkan strategi retoris.

Dalam satire Juvenalian, bahasa yang keras justru menjadi alat untuk mempertegas kemarahan moral.

Kata-kata tersebut berfungsi sebagai vonis, bukan sekadar ekspresi emosional. Ia menutup ruang ironi halus dan menggantinya dengan serangan langsung yang brutal.

Penutup puisi menghadirkan imaji kematian:
“kecuali di dalam tanah setelah tenggelam…”

Di sini, harapan nyaris tidak ditemukan. Tanah menjadi simbol akhir, bukan pemulihan.

Ini sejalan dengan karakter Juvenalian satire yang cenderung pesimistis, bahkan nihilistik.

Dunia yang ditampilkan bukanlah dunia yang bisa diperbaiki dengan mudah, melainkan dunia yang harus dihadapi dalam keterpurukannya.

Dengan demikian, “Hantam Goblok yang Kejam” dapat dibaca sebagai sebuah karya satire yang secara sadar mengedepankan kemarahan sebagai energi utama.

Alfariezie tidak menawarkan solusi, tidak pula menyuguhkan keindahan dalam pengertian konvensional.

Sebaliknya, puisi ini bekerja sebagai alat pembongkar—menguliti realitas sosial hingga ke lapisan paling kasar.

Dalam lanskap sastra kontemporer Indonesia, kehadiran karya dari pujangga berbakat, penyair generasi baru, dan sastrawan pemikir seperti ini menjadi penting.

Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus menenangkan; kadang ia perlu mengganggu, mengguncang, bahkan melukai kesadaran pembacanya.

Dan melalui luka itulah, kritik menemukan daya hidupnya.***

banner 336x280

News Feed