SKYSHI MEDIA- Membaca Ragab Begawe Caram melalui Bakhtin, Williams, Bourdieu dan Ekokritik
Ada penyair yang membangun identitas kepenyairannya melalui tema. Ada yang mengandalkan metafora. Ada yang menempuh jalan eksperimentasi bentuk. Namun ada pula penyair yang menemukan dirinya melalui sesuatu yang lebih elementer: bahasa dan tempat.
Ragab Begawe Caram, puisi Muhammad Alfariezie yang ditulis pada 2020, memperlihatkan kecenderungan tersebut.
Ragab Begawe Caram
Mandala ini puspa fajar merekah
Dini had tunggang gunung betah
Kelopak mega mekar ekor merak
Terbentang bengawan nan rancak
Betul-betul ini asil nan sani
Harmoni bagai sawah, padi dan petani
Sungguh menjamah guyub nan bersih
Fuad laksana air nan jernih
Alangkah sejuk ketika pelupuk terkatup
Betapa empuk merekam bayu duduk di atub
Burung-burung riang
Baskara tunak merangsang kembang-kembang Yang hijau-hijau atap ikan-ikan berenang
Denai permai bagi yang akan datang-datang
Jika kade Mesuji lajak terpasang
Barang-barang datang
Orang-orang tenang menyeberang
Cergas karet sampai jakarta
Deras sawit ke jakarta
Sudah pasti ekspres kakao di pasar ibu kota
Laju harum nikmat kopi dicicip konglomerat
Gancang tembakau dan kelapa diisap dan direguk penikmat
Kalau arsitektur kade Mesuji tercipta lajak Cerocok ingar awak kapal membongkar geladak
Memuat dan membongkar Prodak (produk)
Membawa pulang jutaan uang
Keluarga di sudung pun senang
Cepat. Bangatlah Ragab Begawe Caram
Wahai anak-anak Adam
Buatlah ‘bom’ agar ikan di menu santap malam Di bawah remang bulan
Di bawah terang lelampu pelabuhan
Di selingkung panggung warahan
Pasti asyik nian wisatawan
2020
Puisi ini menarik bukan hanya karena berbicara mengenai Mesuji, pelabuhan, pertanian, perdagangan, dan masa depan daerah, tetapi karena seluruh gagasan tersebut dibangun melalui pertemuan berbagai lapisan bahasa: bahasa Indonesia puitik, kosakata Melayu, nuansa bahasa daerah, diksi arkais, bahasa percakapan, hingga istilah yang berkaitan dengan ekonomi dan pembangunan.
Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca setidaknya melalui dua pintu.
Pintu pertama adalah bahasa lokal. Pintu kedua adalah kritik sastra modern.
Keduanya bertemu ketika Alfariezie menggunakan bahasa untuk membangun sebuah dunia: Mesuji sebagai ruang ekologis, ruang budaya, sekaligus ruang ekonomi.
Bahasa daerah bukan sekadar ornamen
Judul Ragab Begawe Caram sejak awal telah memberi tanda bahwa penyair tidak sedang menulis dalam bahasa Indonesia yang sepenuhnya steril dari pengaruh lokal.
Di dalam teks kemudian muncul kata dan ungkapan seperti “rancak”, “nian”, “gancang”, “sudung”, “warahan”, “lajak”, “baskara”, “bayu”, “puspa”, dan “bengawan”.
Secara estetik, kata-kata tersebut melakukan dua pekerjaan sekaligus.
Pertama, menciptakan musikalitas.
Kedua, menciptakan identitas ruang.
Mesuji tidak sekadar disebut sebagai nama geografis. Ia dibentuk melalui pilihan bahasa.
Di sinilah teori heteroglosia Mikhail Bakhtin menjadi relevan.
Bakhtin menggunakan konsep heteroglosia untuk menjelaskan keberadaan berbagai ragam bahasa sosial dalam satu bahasa: dialek, bahasa kelompok, jargon profesi, bahasa generasi, dan bentuk-bentuk bahasa lain yang membawa sudut pandang sosial tertentu.
Dalam sastra, perbedaan bahasa tersebut bukan sekadar perbedaan kosakata, tetapi membawa perspektif dan nilai yang berbeda terhadap dunia. (OUP Academic)
Jika teori tersebut diterapkan pada Ragab Begawe Caram, puisi Alfariezie dapat dibaca sebagai ruang perjumpaan berbagai bahasa sosial.
Ada bahasa alam. Ada bahasa petani. Ada bahasa rakyat. Ada bahasa pembangunan. Ada bahasa perdagangan. Ada bahasa tradisi. Dan semuanya hidup dalam satu teks.
Karena itu, lokalitas puisi ini tidak hanya terletak pada apa yang dibicarakan, tetapi juga pada cara bahasa tersebut berbicara.
Bahasa sebagai identitas dan kekuasaan
Persoalan bahasa menjadi semakin menarik jika dibaca melalui Pierre Bourdieu.
Dalam kajian Bourdieu, bahasa bukanlah alat komunikasi yang sepenuhnya netral.
Bahasa berkaitan dengan legitimasi, standardisasi, habitus, field, dan kekuasaan simbolik.
Dengan kata lain, ada bahasa yang dalam situasi tertentu dianggap lebih sah, lebih resmi, lebih berpendidikan, atau lebih berwibawa daripada bahasa lainnya. (Annual Reviews)
Dari perspektif tersebut, penggunaan kosakata lokal oleh Alfariezie dapat dibaca sebagai sebuah tindakan estetik yang penting.
Ia tidak menghapus bahasa lokal demi mengejar bahasa Indonesia yang seragam.
Sebaliknya, ia membawa suara lokal tersebut masuk ke dalam wilayah puisi.
Bahasa yang mungkin dianggap “kampung”, “percakapan”, atau “daerah” memperoleh ruang di dalam teks sastra.
Dengan demikian, penggunaan bahasa daerah dapat dibaca sebagai bentuk afirmasi identitas simbolik.
Penyair seakan mengatakan pengalaman daerah tidak harus diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa pusat agar memperoleh status puitik.
Bahasa lokal pun memiliki kemampuan membangun dunia.
Dari “puspa” ke “bengawan”
Larik pembuka memperlihatkan kecenderungan tersebut:
“Mandala ini puspa fajar merekah”
“Dini had tunggang gunung betah”
“Kelopak mega mekar ekor merak”
“Terbentang bengawan nan rancak”
Alfariezie tidak mengatakan secara sederhana: “Pagi di Mesuji sangat indah.” Ia memilih “puspa”, “mega”, “bengawan”, dan “rancak”.
Kata-kata itu membawa puisi keluar dari bahasa deskriptif biasa menuju bahasa yang memiliki jejak Melayu, arkais, dan puitik.
Akibatnya, lanskap Mesuji tidak hanya menjadi objek penglihatan. Ia menjadi objek estetisasi. Fajar menjadi bunga. Awan menjadi kelopak. Sungai menjadi bengawan.
Alam seolah memperoleh tubuh manusiawi.
Di sinilah bahasa bekerja bukan sebagai cermin realitas, tetapi sebagai pencipta realitas puitik.
*Sawah, padi dan petani: ekologi sebagai relasi*
Baris:
“Harmoni bagai sawah, padi dan petani”
adalah salah satu pusat ideologis puisi. Penyair tidak memilih “sawah, padi, dan manusia”. Ia memilih petani.
Pilihan ini penting karena petani menandai kerja.
Dengan demikian, alam dalam puisi tidak berdiri sendiri. Alam bertemu dengan manusia melalui pekerjaan.
Sawah menghasilkan padi.
Padi menopang kehidupan.
Petani mengolah sawah.
Ketiganya berada dalam satu jaringan. Pembacaan ini membawa puisi ke wilayah ekokritik.
Dalam tradisi ekokritik, hubungan antara karya sastra dan lingkungan fisik menjadi pusat perhatian.
Alam tidak lagi dianggap sekadar latar cerita, melainkan bagian dari struktur makna dan hubungan manusia dengan dunia material.
Karena itu, Ragab Begawe Caram dapat disebut sebagai puisi yang memiliki kesadaran ekopoetik, meskipun ia tidak selalu berbicara dengan nada ekologis.
Alam adalah sumber keindahan. Tetapi alam juga merupakan sumber kehidupan.
Dan kemudian, alam menjadi sumber ekonomi.
Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks.
Raymond Williams dan “structure of feeling”
Untuk memahami lapisan sosial puisi ini, teori Raymond Williams menjadi sangat berguna.
Williams mengembangkan konsep structure of feeling, yakni cara pengalaman sosial yang sedang hidup dan dirasakan dalam suatu zaman dapat menemukan bentuknya dalam karya budaya.
Konsep ini berkaitan dengan pengalaman yang belum tentu menjadi ideologi resmi, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam Ragab Begawe Caram, kita dapat melihat sebuah structure of feeling berupa optimisme pembangunan daerah.
Perasaan itu tampak dalam kata-kata:
“Barang-barang datang”
“Orang-orang tenang menyeberang”
dan kemudian:
“Membawa pulang jutaan uang”
“Keluarga di sudung pun senang”
Yang dibicarakan bukan hanya pelabuhan. Yang sebenarnya dibicarakan adalah harapan. Harapan bahwa pembangunan infrastruktur akan memperbaiki mobilitas. Harapan bahwa komoditas lokal akan memperoleh pasar. Harapan bahwa uang akan berputar di masyarakat. Harapan bahwa keluarga akan menjadi lebih sejahtera.
Inilah yang disebut Williams sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar “gagasan”.
Ia merupakan suasana sosial yang dirasakan dan kemudian memperoleh bentuk artistik. (Sage Journals)
Dengan pendekatan tersebut, puisi Alfariezie dapat dibaca sebagai dokumen imajinatif mengenai perasaan pembangunan.
Dari Mesuji ke Jakarta
Perubahan paling penting terjadi ketika penyair menyebut komoditas:
“Cergas karet sampai jakarta”
“Deras sawit ke jakarta”
“Sudah pasti ekspres kakau di pasar ibu kota”
“Laju harum nikmat kopi dicicip konglomerat”
Di sini puisi berubah menjadi semacam peta ekonomi puitik.
Mesuji menjadi ruang produksi.
Jakarta menjadi ruang konsumsi.
Karet, sawit, kakao, dan kopi menjadi penghubung.
Ada arus barang dari daerah menuju pusat. Menariknya, penyair menggunakan kata-kata yang mengandung gerak:
cergas, deras, ekspres, laju.
Ekonomi dalam puisi tidak diam. Ia bergerak. Komoditas bergerak. Kapal bergerak. Manusia bergerak. Uang pun diharapkan bergerak kembali ke masyarakat.
Dalam perspektif materialisme kultural Raymond Williams, pembacaan sastra tidak perlu memisahkan karya seni dari kondisi material yang melahirkannya.
Williams justru menekankan pentingnya membaca praktik budaya dalam kaitannya dengan kondisi produksi dan kehidupan sosialnya. (Cambridge)
Karena itu, Ragab Begawe Caram dapat dibaca sebagai puisi yang mempertemukan estetika dengan ekonomi.
Pelabuhan sebagai metafora modernitas
“Kade Mesuji” menjadi titik balik dalam puisi.
Jika sebelumnya Mesuji hadir sebagai lanskap, setelah pelabuhan disebut, Mesuji berubah menjadi ruang mobilitas.
Pelabuhan bukan hanya bangunan. Ia menjadi simbol modernitas. Pelabuhan membuka hubungan. Pelabuhan mempercepat distribusi. Pelabuhan menghubungkan desa dengan kota. Pelabuhan menghubungkan daerah dengan Jakarta.
Dan akhirnya, pelabuhan menghubungkan Mesuji dengan dunia.
Karena itu, pelabuhan dapat dibaca sebagai metafora pintu masa depan.
Yang menarik, modernitas dalam puisi ini tidak sepenuhnya ditampilkan sebagai ancaman.
Ia justru diharapkan. Tetapi di sinilah kritik modern perlu masuk.
Sebab setiap modernisasi membawa pertanyaan: siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang bekerja, apa yang berubah, dan apa yang mungkin hilang?
Puisi belum menyelesaikan pertanyaan tersebut.
Namun ia telah membuka ruangnya.
Bahasa tradisi di tengah pembangunan
Bagian akhir menghadirkan kata yang sangat penting:
“Di selingkung panggung warahan”
“Warahan” membawa kita kembali kepada tradisi pertunjukan dan kebudayaan lisan. Sementara beberapa larik sebelumnya dipenuhi kata-kata:
kapal, geladak, produk, pasar, konglomerat, pelabuhan.
Terjadi pertemuan yang menarik. Tradisi bertemu industri. Warahan bertemu pelabuhan. Bulan bertemu lampu. Ikan bertemu wisatawan. Kampung bertemu ekonomi. Di sinilah teori Bakhtin kembali menemukan relevansinya.
Puisi tidak menggunakan satu bahasa yang homogen. Ia mengorkestrasi berbagai bahasa dan horizon sosial.
Heteroglosia memungkinkan teks menampung berbagai sudut pandang dunia sekaligus. (OUP Academic)
Ragab Begawe Caram dengan demikian bukan hanya multibahasa dalam arti kosakata, tetapi juga multiwawasan.
Ada cara pandang petani. Ada cara pandang pedagang. Ada cara pandang pembangunan. Ada cara pandang wisata. Ada cara pandang tradisi.
“Bom”: sebuah gangguan ekologis
Larik:
“Buatlah ‘bom’ agar ikan di menu santap malam”
merupakan salah satu bagian yang paling problematis sekaligus menarik.
Kata “bom” merusak ketenangan estetika puisi.
Sebelumnya kita diberi sawah, padi, burung, ikan, sungai, dan alam.
Tiba-tiba muncul “bom”.
Jika dibaca literal, kata tersebut dapat menunjuk pada tindakan destruktif terhadap ekosistem perairan.
Jika dibaca metaforis, ia dapat berarti “gebrakan” atau ledakan kreativitas dan pembangunan.
Ambiguitas tersebut justru produktif. Tapi apakah “Bom” juga memiliki makna atau arti lain dalam kedaerahan?
Alam sebagai komoditas
Ada satu perkembangan penting di dalam puisi. Pada awalnya, alam hadir sebagai sesuatu yang indah:
“puspa fajar merekah”
Kemudian alam menjadi sesuatu yang produktif:
“sawah, padi dan petani”
Kemudian menjadi komoditas:
“karet” “sawit” “kakao” “kopi”
Dan akhirnya menjadi objek konsumsi:
“ikan di menu santap malam”
Perubahan ini dapat dibaca sebagai perjalanan simbolik alam menuju komoditas.
Inilah salah satu persoalan utama dalam ekokritik modern: hubungan manusia dengan alam tidak hanya menyangkut keindahan, tetapi juga produksi, konsumsi, dan eksploitasi.
Dengan demikian, Ragab Begawe Caram mengandung kontradiksi yang menarik:
alam harus dijaga karena menjadi rumah, tetapi alam juga dieksploitasi karena menjadi sumber kehidupan ekonomi.
Kontradiksi tersebut justru membuat puisi memiliki kedalaman sosial.
“Ragab Begawe Caram” sebagai structure of feeling daerah
Jika teori Williams digunakan lebih jauh, puisi ini dapat dipahami sebagai artikulasi sebuah structure of feeling daerah.
Ada keinginan untuk maju. Ada kebanggaan terhadap hasil bumi. Ada keinginan agar daerah tidak tertinggal. Ada harapan terhadap infrastruktur. Ada impian agar masyarakat memperoleh uang. Ada bayangan agar tradisi tetap hidup.
Dan ada keyakinan bahwa pembangunan dapat mempertemukan semua unsur tersebut.
Semua perasaan itu tidak disusun sebagai manifesto.
Ia disusun sebagai puisi. Inilah kekuatan sastra. Ia mampu menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya menjadi kebijakan atau teori, tetapi sudah menjadi perasaan kolektif tentang masa depan.
Alfariezie dan politik bahasa
Dalam konteks kepenyairan Muhammad Alfariezie, penggunaan bahasa lokal juga dapat dipandang sebagai politik bahasa dalam skala estetik.
Bukan politik dalam pengertian partisan.
Melainkan politik mengenai siapa yang boleh terdengar.
Ketika kosakata lokal dimasukkan ke dalam puisi, penyair sedang memperluas wilayah bahasa sastra.
Ia membuat bahasa daerah tidak sekadar menjadi bahasa rumah.
Ia menjadikannya bahasa seni. Di sinilah pendekatan Bourdieu menjadi relevan kembali.
Jika bahasa memiliki legitimasi yang berbeda-beda dalam ruang sosial, maka membawa bahasa lokal ke ruang sastra berarti memberikan modal simbolik kepada kata-kata yang sebelumnya mungkin dianggap kurang prestisius.
Teori Bourdieu tentang praktik bahasa memang menempatkan bahasa dalam hubungan dengan legitimasi, standardisasi, habitus, dan kekuasaan simbolik. (Annual Reviews)
Dengan kata lain:
Alfariezie tidak hanya menulis tentang daerah; ia membuat daerah berbicara melalui bahasa puisi.
Puisi sebagai arsip imajinasi
Ditulis pada 2020, Ragab Begawe Caram juga dapat diposisikan sebagai arsip imajinatif.
Bukan arsip mengenai apa yang sudah terjadi.
Melainkan arsip mengenai apa yang pernah dibayangkan.
Di dalamnya tersimpan sebuah visi:
Mesuji yang memiliki pelabuhan.
Komoditas yang bergerak.
Masyarakat yang sejahtera.
Keluarga yang memperoleh penghasilan.
Tradisi yang tetap hidup.
Wisatawan yang datang.
Jika dibaca melalui Williams, puisi ini menjadi rekaman structure of feeling dari suatu periode: sebuah cara merasakan masa depan sebelum masa depan itu sepenuhnya hadir. (Wiley Online Library)
Alfariezie: dari lokal menuju universal
Di sinilah posisi Muhammad Alfariezie sebagai penyair berbakat Indonesia menjadi menarik.
Kekuatan seorang penyair tidak selalu terletak pada kemampuannya meninggalkan lokalitas.
Justru penyair yang kuat sering kali mampu membuat lokalitas berbicara kepada pengalaman universal.
Mesuji memang lokal. Tetapi persoalan yang dibicarakan puisi ini universal:
Bagaimana manusia membangun masa depan tanpa kehilangan alam?
Bagaimana daerah memperoleh kesejahteraan tanpa kehilangan identitas?
Bagaimana tradisi bertahan ketika modernitas datang?
Bagaimana bahasa lokal memperoleh tempat dalam kebudayaan nasional?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat puisi yang berangkat dari sebuah daerah dapat dibaca melampaui daerahnya.***















