SKYSHI MEDIA- Persaingan menuju kursi Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 semakin menarik. Di tengah persaingan tiga kandidat, Dr. Budiono justru mencuri perhatian setelah memperoleh dukungan suara terbanyak dalam penjaringan senat.
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Dr. As’ad Muzzammil, menilai capaian tersebut menjadi modal kuat yang menunjukkan tingkat kepercayaan internal kampus terhadap Budiono.
Dari total 47 anggota senat, Budiono memperoleh 22 suara. Jumlah tersebut mengungguli dua kandidat lainnya yang sama-sama menyandang gelar profesor, yakni Prof. Warsito dari Fakultas Matematika dan Prof. Asep Sukohar dari Fakultas Kedokteran.
Bagi Muzzammil, angka tersebut bukan sekadar hasil pemungutan suara. Dukungan itu mencerminkan kepercayaan dari unsur internal kampus yang mengenal kapasitas, rekam jejak, dan karakter para kandidat.
Dalam opini yang diterbitkan BE1Lampung pada Kamis, 29 Oktober 2026, Muzzammil menyebut suara senat sebagai representasi aspirasi arus bawah yang patut diperhitungkan dalam menentukan arah kepemimpinan Unila.
“Pertama dari aspek kepatutan. Dalam hal ini, suara senat adalah suara arus bawah yang tidak terbantahkan,” tulisnya.
Bukan Sekadar Gelar, Kepercayaan Internal Jadi Modal
Menurut Muzzammil, perolehan 22 suara atau hampir separuh dari total suara senat menunjukkan adanya kepercayaan internal yang kuat terhadap Budiono.
Dukungan tersebut dinilainya memiliki makna penting karena datang dari para guru besar dan perwakilan fakultas yang memahami kebutuhan serta tantangan kampus secara langsung.
“Penjaringan adalah cerminan trust internal. Jika seorang calon mampu meraih 22 suara atau hampir 50 persen suara senat yang hadir, itu artinya ada legitimasi moral yang kuat dari para guru besar dan perwakilan fakultas,” ungkapnya.
Muzzammil menilai, kepemimpinan universitas tidak cukup hanya ditentukan oleh gelar akademik. Kapasitas manajerial, integritas, kemampuan membangun komunikasi, dan kepercayaan kolektif juga menjadi faktor penting.
Dalam konteks tersebut, Budiono dinilai memiliki sejumlah modal untuk membawa Unila memasuki fase kepemimpinan berikutnya.
Sebagai dosen Hukum Tata Negara dan Ketua Sistem Pengawas Internal Unila, Budiono disebut memiliki kemampuan komunikasi intelektual yang cair dengan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga negara, BUMN, hingga sektor swasta.
Kemampuan membangun jejaring tersebut dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong hasil riset dosen maupun mahasiswa agar tidak berhenti di lingkungan akademik.
Unila Butuh Rektor yang Bisa Merangkul Semua Pihak
Muzzammil juga menyoroti pentingnya kepemimpinan kolektif bagi Unila. Menurutnya, kampus membutuhkan figur yang mampu menyatukan berbagai kepentingan internal, bukan hanya mengandalkan dukungan dari luar.
Ia mengingatkan bahwa Unila membutuhkan kepercayaan dan soliditas setelah melewati persoalan besar dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini penting untuk aspek kepatutan. Unila pasca kasus beberapa tahun lalu sangat membutuhkan pemimpin yang diterima secara kolektif, bukan pemimpin yang hanya kuat karena sokongan luar tapi lemah di dalam,” tulis Muzzammil.
Pandangan tersebut menempatkan dukungan senat sebagai salah satu indikator penting dalam membaca penerimaan internal terhadap seorang calon rektor.
Namun, hasil penjaringan senat tetap merupakan salah satu tahapan dalam proses pemilihan. Keputusan akhir rektor harus mengikuti mekanisme dan ketentuan pemilihan yang berlaku di Unila.
Ajak Alumni Bangun Kemandirian Ekonomi Kampus
Di luar persaingan pemilihan rektor, Budiono juga disebut aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk alumni dari sejumlah fakultas.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah mengajak alumni untuk ikut menghidupkan, mengembangkan, memberdayakan, dan mendukung pendanaan aset-aset strategis Unila.
Gagasan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi kampus. Dengan pengelolaan aset dan kolaborasi yang tepat, universitas diharapkan memiliki sumber daya tambahan untuk mendukung pendidikan, riset, serta kesejahteraan sivitas akademika.
Isu ini menjadi relevan karena perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga harus mampu memperluas akses pendidikan.
Jangan sampai mahasiswa kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliah hanya karena keterbatasan kemampuan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Bagi Unila sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Provinsi Lampung, penguatan aset dan kemandirian ekonomi kampus dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan pendidikan.
Tantangan Unila Bukan Hanya Memilih Rektor
Persaingan Unila dengan perguruan tinggi lain juga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Institut Teknologi Sumatera (Itera), misalnya, terus membangun reputasi melalui pengembangan inovasi, infrastruktur, dan riset.
Situasi tersebut menuntut Unila memiliki pemimpin yang tidak hanya mampu menjaga tata kelola internal, tetapi juga mendorong kampus semakin kompetitif di tingkat nasional.
Riset harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Kolaborasi dengan pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, serta para alumni perlu diperkuat agar hasil pemikiran akademisi dapat memberikan dampak nyata.
Dalam pandangan Muzzammil, capaian suara Budiono menjadi sinyal bahwa figur tersebut memiliki modal penerimaan internal untuk membangun kepemimpinan yang lebih kolektif.
“Kemenangan telak Budiyono menjadi sinyal bahwa dia adalah figur pemersatu di tengah perbedaan pilihan,” tulisnya.
Pada akhirnya, pemilihan Rektor Unila bukan sekadar kompetisi gelar akademik atau perolehan suara. Tantangan sesungguhnya adalah menghadirkan kepemimpinan yang mampu memperkuat tata kelola, mengembangkan riset, mengoptimalkan aset, memperluas jejaring, dan memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan.
Dukungan 22 suara menjadi modal penting bagi Budiono. Namun, publik kampus kini menantikan bagaimana setiap kandidat menawarkan gagasan dan strategi terbaik untuk membawa Unila melangkah lebih jauh pada periode 2027–2031.***


















