Amerika Tangkap Presiden Venezuela, Dunia Bereaksi

banner 468x60

SKYSHI MEDIA— Ketegangan internasional meningkat setelah Amerika Serikat melalui operasi militer menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, Sabtu malam WIB (3 Januari 2026). Langkah ini langsung memicu kecaman dari berbagai negara adidaya dan menimbulkan sorotan soal kepentingan ekonomi di balik operasi tersebut.

Konferensi pers dan pernyataan resmi dari AS mengungkap bahwa operasi penangkapan terkait tuduhan terorisme narkoba, perdagangan narkoba, dan kejahatan terorganisir. Namun, beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat menilai tindakan itu tidak semata soal narkoba, tetapi terkait cadangan minyak Venezuela. Anggota Kongres Jase Auchincloss menyebut, “Ini pertumpahan darah demi minyak, tidak berhubungan perdagangan narkoba. Trump menepati janji kampanye kepada perusahaan minyak besar AS, termasuk Chevron.”

banner 336x280

Reaksi Global

Venezuela melalui Menteri Luar Negeri Yvan Gil menegaskan kecaman terhadap agresi AS dan mengaktifkan sistem pertahanan menyeluruh. Sementara itu, Rusia menilai tindakan ini sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan menciptakan preseden buruk bagi stabilitas politik global.

China juga mengutuk keras tindakan AS, menilai operasi militer tersebut melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela. “China sangat terkejut dan dengan tegas mengutuk penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat serta tindakan terhadap presidennya,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dikutip dari Anadolu.

Korea Utara menambah ketegangan dengan meluncurkan dua rudal balistik ke perairan antara Korea dan Jepang pada Minggu (1 Januari 2026). Meski belum jelas apakah ini respons terhadap penangkapan Maduro atau kunjungan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China, peluncuran rudal terjadi hanya beberapa jam setelah operasi AS berlangsung.

Dampak dan Kepentingan Minyak

Menurut laporan NY Times, Presiden Trump menegaskan bahwa industri minyak Venezuela akan diambil alih dan diperbarui oleh perusahaan-perusahaan besar AS. Trump menyatakan, “Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini.”

Klaim ini sejalan dengan analisis anggota Kongres Demokrat, yang menilai operasi AS bukan hanya tindakan penegakan hukum, tetapi juga upaya menegakkan janji kampanye terkait keuntungan perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela. Chevron disebut sebagai perusahaan yang bakal memperoleh akses strategis atas cadangan minyak Venezuela.

Konteks Regional

Langkah AS ini memicu ketegangan di Amerika Latin dan Karibia, serta menjadi sorotan global terkait hukum internasional dan kedaulatan negara. Kecaman dari Rusia dan China menegaskan bahwa tindakan hegemonik semacam ini dapat memengaruhi perdamaian regional, menimbulkan ketidakstabilan, dan memicu respons militer atau diplomatik lebih lanjut.

Pengamat internasional menyoroti bahwa kejadian ini menunjukkan bagaimana kepentingan ekonomi, politik, dan energi saling terkait, serta menekankan perlunya penguatan mekanisme diplomasi multilateral untuk menghindari eskalasi konflik.***

banner 336x280