SKYSHI MEDIA – Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan gemerlap lampu perkotaan, ada satu medium yang kerap jadi ruang berekspresi rakyat: seni jalanan. Dari mural penuh warna, graffiti dengan pesan protes, hingga instalasi kreatif di tembok kota, semuanya berbicara lantang tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat.
Bagi sebagian orang, seni jalanan mungkin hanya dianggap sebagai coretan liar. Namun, bagi seniman dan komunitas urban, ini adalah bentuk perlawanan halus terhadap ketidakadilan, sekaligus cara menyuarakan identitas dan harapan. Di banyak kota besar, mural kerap hadir sebagai “koran dinding” modern yang menyoroti isu lingkungan, kemiskinan, hingga keresahan anak muda.
Fenomena ini tidak hanya sekadar ekspresi, tetapi juga menjadi bagian dari pariwisata kreatif. Banyak wisatawan kini menjadikan spot mural sebagai destinasi foto, sementara pemerintah beberapa kota mulai merangkul seniman jalanan untuk mempercantik ruang publik.
Namun, dilema masih ada. Perdebatan antara seni dan vandalisme terus berlangsung. Apakah graffiti yang penuh kritik sosial bisa dilihat sebagai karya seni, atau justru merusak wajah kota? Pertanyaan ini membuka ruang diskusi yang tak pernah selesai.
Yang jelas, seni jalanan bukan sekadar warna di dinding. Ia adalah suara rakyat—jujur, spontan, dan tanpa filter. Dalam setiap sapuan cat, ada kisah perjuangan, keresahan, dan mimpi yang ingin disampaikan.***
