SKYSHI MEDIA – Di balik gemerlap kota besar, terdapat kisah perjuangan sunyi para guru honorer di pedalaman. Dengan fasilitas terbatas, akses jalan sulit, bahkan gaji yang jauh dari kata layak, mereka tetap mengabdikan diri untuk satu tujuan mulia: mencerdaskan anak bangsa.
Setiap hari, para guru honorer di daerah terpencil menempuh perjalanan panjang, ada yang berjalan kaki belasan kilometer, ada pula yang harus menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah. Di kelas, mereka sering kali menghadapi keterbatasan sarana belajar. Papan tulis lusuh, buku usang, hingga bangku yang sudah reyot menjadi pemandangan biasa. Namun, semangat mereka tak pernah luntur.
Kisah ini bukan hanya tentang profesi, melainkan tentang panggilan hati. Meski status honorer membuat mereka kerap dipandang sebelah mata, peran mereka begitu vital. Tanpa mereka, banyak anak di pelosok negeri akan kehilangan akses pendidikan.
Lebih dari sekadar mengajar, guru honorer di pedalaman juga berperan sebagai motivator, pembimbing moral, bahkan orang tua kedua bagi murid-muridnya. Mereka menjadi cahaya kecil yang memberi harapan besar di tengah keterbatasan.
Namun, perjuangan ini tentu membutuhkan perhatian lebih. Kesejahteraan dan penghargaan terhadap guru honorer, khususnya di pedalaman, harus menjadi prioritas agar mereka tidak hanya dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan juga dihargai sebagaimana mestinya.***
