SKYSHI MEDIA – Ketika membicarakan sejarah Indonesia, nama-nama pahlawan seperti Soekarno, Hatta, atau Diponegoro kerap muncul di garis depan. Namun, di balik perjuangan panjang bangsa ini, banyak perempuan hebat yang kontribusinya jarang tersorot dalam buku pelajaran maupun ruang publik.
Kita mengenal Cut Nyak Dhien, pahlawan perempuan Aceh yang tak gentar melawan kolonial Belanda. Namun di luar itu, ada sosok seperti Martha Christina Tiahahu dari Maluku, seorang gadis muda yang berani angkat senjata di usia belia. Ada pula Dewi Sartika, tokoh pendidikan dari Jawa Barat yang mendirikan sekolah untuk perempuan pada awal abad ke-20, ketika akses pendidikan masih terbatas.
Tak hanya di medan perang, perempuan Indonesia juga banyak berperan dalam diplomasi, budaya, dan gerakan sosial. Nama-nama seperti Rasuna Said, Kartini, hingga Maria Walanda Maramis menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya soal senjata, tapi juga gagasan, pendidikan, dan penguatan posisi perempuan di masyarakat.
Sayangnya, sebagian besar kisah mereka masih tenggelam dalam narasi sejarah yang lebih menyoroti tokoh laki-laki. Padahal, mengangkat kembali cerita-cerita ini bukan hanya soal melengkapi sejarah, tapi juga memberi inspirasi bagi generasi muda tentang kesetaraan, keberanian, dan kepeloporan perempuan Indonesia.
Sejarah bukan hanya milik mereka yang tercatat di buku besar bangsa, tapi juga milik mereka yang suaranya sempat terlupakan. Saatnya kisah perempuan Indonesia diberi panggung yang setara.***
