SKYSHI MEDIA – Nusantara tidak hanya kaya akan budaya dan tradisi, tetapi juga menyimpan warisan filosofi hidup yang dalam. Setiap daerah memiliki petuah, peribahasa, hingga falsafah yang menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan. Filosofi ini lahir dari pengalaman panjang nenek moyang dalam berhubungan dengan alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta.
Salah satu contohnya adalah falsafah Jawa “urip iku urup” yang bermakna hidup seharusnya memberi cahaya atau manfaat bagi orang lain. Ada pula falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru” yang menekankan pentingnya belajar dari alam sekitar. Sementara masyarakat Bugis mengenal nilai “siri’ na pacce” yang menjunjung tinggi harga diri dan solidaritas sosial.
Filosofi Nusantara ini bukan sekadar ungkapan bijak, melainkan panduan hidup yang masih relevan hingga kini. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, nilai-nilai lokal bisa menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan jati diri. Misalnya, saat budaya individualisme semakin kuat, filosofi gotong royong khas Indonesia mengingatkan pentingnya kebersamaan.
Generasi muda pun mulai melirik kembali nilai-nilai ini, baik melalui karya seni, literatur, maupun gerakan sosial. Filosofi Nusantara dianggap mampu memberikan arah dalam mencari makna hidup yang lebih utuh: bukan hanya mengejar materi, tapi juga menjaga harmoni dengan diri, sesama, dan lingkungan.***















