SKYSHI MEDIA – Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, kearifan lokal sering kali terlupakan. Padahal, leluhur Nusantara telah meninggalkan harta berharga berupa pepatah dan peribahasa yang sarat makna. Pepatah-pepatah ini bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi cermin filosofi hidup yang bisa menjadi pedoman generasi sekarang maupun mendatang.
Pepatah Sebagai Cermin Kehidupan
Setiap daerah di Indonesia memiliki pepatah khas dengan nuansa budaya yang unik. Dari Aceh hingga Papua, ungkapan bijak itu lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Filosofi yang terkandung di dalamnya mampu memberi arah, motivasi, bahkan peringatan.
Sebut saja pepatah Minangkabau yang berbunyi, “Alam takambang jadi guru”. Ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia bisa belajar dari segala sesuatu di alam semesta. Filosofi ini selaras dengan prinsip pendidikan modern yang menekankan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning).
Inspirasi dari Berbagai Daerah
Mari kita menengok beberapa pepatah Nusantara yang masih relevan hingga kini:
- Jawa: “Urip iku urup”
Artinya, hidup itu harus memberi manfaat bagi sesama, seperti api yang menyala memberi terang. Filosofi ini mengajarkan pentingnya hidup yang bermakna, bukan sekadar eksistensi. - Bugis: “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata”
Terjemahannya, hanya dengan kerja keras dan ketekunanlah berkah Tuhan akan datang. Ungkapan ini mencerminkan etos kerja masyarakat Bugis yang dikenal gigih di darat maupun di laut. - Sunda: “Silih asah, silih asih, silih asuh”
Filosofi hidup orang Sunda yang menekankan saling menghargai, saling mengasihi, dan saling membimbing dalam kebersamaan. - Papua: “Satu tungku tiga batu”
Pepatah yang menggambarkan pentingnya persatuan. Sama seperti tungku yang tak bisa berdiri tanpa tiga batu penyangga, hidup bermasyarakat tak akan kuat tanpa kebersamaan.
Filosofi Lama untuk Tantangan Baru
Di era digital saat ini, pepatah Nusantara tetap relevan. Misalnya, pepatah “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” bisa menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas di tengah persaingan global. Begitu juga dengan pepatah “Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga” yang menyiratkan nilai kejujuran dan integritas, sangat relevan dalam menghadapi tantangan dunia modern yang penuh godaan.
Para generasi muda yang akrab dengan teknologi bisa menjadikan pepatah ini sebagai life hack tradisional. Filosofi lokal yang sederhana tetapi dalam ini, justru bisa menjadi counter culture terhadap gaya hidup instan.
Pepatah Sebagai Identitas Budaya
Menggali pepatah Nusantara juga berarti menjaga identitas bangsa. Dalam setiap kata tersimpan nilai luhur: gotong royong, kebersamaan, kejujuran, dan semangat kerja keras. Semua nilai itu adalah modal sosial yang bisa memperkuat bangsa menghadapi perubahan zaman.
Pakar budaya sering menekankan, pepatah dan peribahasa bukan sekadar warisan bahasa, melainkan refleksi nilai yang membentuk karakter bangsa. Menjaga dan menghidupkannya sama dengan menjaga jati diri.
Inspirasi untuk Kehidupan Modern
Tak ada salahnya jika pepatah Nusantara dikontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, pepatah “Sedia payung sebelum hujan” bisa dimaknai sebagai pentingnya perencanaan dalam bisnis maupun keuangan pribadi. Atau pepatah “Air tenang menghanyutkan” bisa menjadi pengingat bahwa rendah hati sering kali lebih berpengaruh daripada sikap arogan.
Generasi milenial dan Gen Z bisa memanfaatkan media sosial untuk menghidupkan pepatah Nusantara. Dengan menyelipkan kutipan bijak ini dalam konten kreatif, mereka bukan hanya menambah inspirasi, tetapi juga melestarikan warisan budaya.
Warisan yang Harus Dijaga
Pepatah Nusantara adalah mutiara kata yang menyimpan filosofi mendalam. Ia lahir dari pengalaman, kearifan, dan pandangan hidup leluhur yang relevan hingga kini. Menggali dan menghidupkan kembali pepatah ini bukan sekadar romantisme budaya, melainkan investasi moral untuk masa depan bangsa.
Di tengah derasnya modernisasi, pepatah Nusantara bisa menjadi jangkar moral yang menjaga kita tetap berpijak pada nilai-nilai luhur. Sebab, seperti pepatah berkata: “Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.”***
