SKYSHI MEDIA – Selama ini, filsafat sering dianggap rumit, berat, dan hanya bisa dipahami oleh kalangan akademisi. Namun, di tangan Generasi Z, filsafat justru menemukan cara baru untuk hidup dan berkembang. Anak muda masa kini tidak lagi memandang filsafat sebagai buku tebal penuh istilah asing, melainkan sebagai jalan untuk memahami kehidupan sehari-hari dengan lebih jernih.
Filsafat dan Kehidupan Sehari-hari
Bagi Gen Z, filsafat bukan sekadar teori abstrak, tetapi refleksi sederhana tentang “kenapa kita ada” hingga “bagaimana sebaiknya hidup.” Pertanyaan-pertanyaan besar ini sering muncul dalam bentuk meme, konten singkat, bahkan video TikTok.
Platform Digital Jadi Pintu Masuk
Media sosial membuka ruang bagi filsafat untuk diakses dengan lebih ringan. Banyak kreator konten membahas Plato, Nietzsche, hingga filsafat timur dengan bahasa santai, visual menarik, bahkan dikaitkan dengan tren pop culture. Hasilnya, pemahaman yang dulunya terasa berat kini bisa dinikmati di sela waktu luang.
Filsafat Sebagai Self-Healing
Banyak anak muda menemukan bahwa filsafat bisa membantu menghadapi kecemasan, overthinking, atau kebingungan dalam hidup. Stoisisme, misalnya, populer karena mengajarkan ketenangan menghadapi masalah. Filsafat pun bertransformasi menjadi alat refleksi diri yang praktis.
Belajar dari Buku, Podcast, hingga Komunitas
Selain media sosial, Gen Z juga memanfaatkan podcast dan forum online untuk berdiskusi. Buku-buku filsafat kini hadir dalam versi ringkas dengan ilustrasi menarik, membuat pembaca tidak merasa kewalahan.
Generasi Z telah membuktikan bahwa filsafat bukanlah menara gading yang jauh dari kehidupan. Dengan kreativitas, mereka menghadirkan cara baru yang lebih ringan, relevan, dan menyenangkan untuk memahami dunia. Membaca filsafat pun kini bisa menjadi gaya hidup intelektual yang keren.***
