SKYSHI MEDIA – Di tengah hiruk-pikuk kota besar, ada sebuah kisah sederhana namun penuh makna. Di sebuah gang kecil yang sempit dan jarang dilirik, tumbuh sebuah komunitas membaca yang lahir dari kepedulian warga setempat. Bermula dari satu rak buku bekas yang diletakkan di teras rumah, kini komunitas itu berkembang menjadi ruang berkumpul bagi anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Buku-buku yang mereka baca mungkin tidak baru, beberapa bahkan lusuh, namun semangat yang lahir dari kegiatan ini sangat segar. Anak-anak yang dulunya lebih sering bermain di jalan kini punya alasan untuk duduk bersama, membaca, dan berdiskusi. Tidak jarang, cerita yang mereka temukan di halaman buku menjadi pemantik ide untuk menggambar, menulis, atau bahkan membuat pertunjukan kecil di gang tersebut.
Yang menarik, komunitas ini tidak sekadar membaca. Mereka juga mengadakan kegiatan “tukar buku”, kelas menulis singkat, hingga sesi dongeng setiap akhir pekan. Semua dilakukan dengan sukarela, berbasis gotong royong, dan tanpa dukungan sponsor besar. Hasilnya? Sebuah ruang aman yang penuh inspirasi, di mana warga bisa merasakan kebersamaan lewat literasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi tidak harus dimulai dari gedung perpustakaan megah atau program besar-besaran. Dari sebuah gang kecil pun, percikan cinta pada buku bisa menyebar luas. Inspirasi seperti ini mengingatkan kita bahwa membaca bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal membangun komunitas, menumbuhkan empati, dan menjaga harapan tetap hidup.***













