SKYSHI MEDIA – Seni dan teknologi, dua bidang yang dahulu dianggap berbeda, kini semakin saling terkait erat di era digital. Perkembangan teknologi tidak hanya memengaruhi cara seniman berkarya, tetapi juga bagaimana masyarakat mengapresiasi dan mengakses seni.
Di dunia musik, misalnya, teknologi digital memungkinkan musisi independen merilis karya tanpa harus bergantung pada label besar. Platform streaming seperti Spotify dan YouTube menghadirkan panggung global yang bisa diakses siapa pun. Sementara itu, dalam dunia seni rupa, muncul fenomena NFT (Non-Fungible Token) yang mengubah cara orang membeli dan mengoleksi karya seni, dari kanvas tradisional ke aset digital berbasis blockchain.
Tak hanya itu, seni pertunjukan juga berkembang pesat dengan bantuan teknologi. Teater dan konser kini tak lagi terbatas pada panggung fisik; konsep virtual concert atau pameran digital membuat audiens dapat menikmati karya dari belahan dunia mana pun.
Namun, perubahan ini juga memunculkan perdebatan: apakah teknologi memperkaya atau justru menggerus esensi seni? Beberapa seniman khawatir bahwa ketergantungan pada algoritma dan tren digital bisa mengurangi nilai orisinalitas. Di sisi lain, banyak yang berpendapat bahwa teknologi justru memperluas akses, membuat seni lebih inklusif, dan membuka ruang eksperimen baru.
Satu hal yang jelas, seni dan teknologi kini berjalan beriringan. Jika dahulu seni dilihat sebagai ekspresi murni dan teknologi sebagai alat praktis, kini keduanya melebur menciptakan ekosistem kreatif yang semakin luas dan dinamis.***
