SKYSHI MEDIA – Di era globalisasi dan digitalisasi, budaya pop kerap bertemu dengan budaya tradisi. Dari musik, fesyen, hingga seni pertunjukan, benturan ini menimbulkan pertanyaan: haruskah keduanya selalu bertabrakan, atau justru bisa bersinergi?
Menurut antropolog Dr. Ratna Wulandari, budaya tradisi memiliki nilai historis, filosofi, dan identitas yang melekat pada masyarakat. Sementara budaya pop bergerak cepat, dinamis, dan sering dipengaruhi tren global. “Konflik muncul ketika budaya tradisi dipaksa mengikuti arus modern tanpa menghargai nilai asli,” jelasnya.
Namun, beberapa pakar melihat peluang sinergi. Misalnya, musik tradisional yang dikombinasikan dengan aransemen modern, atau motif batik yang diadaptasi dalam fashion kontemporer. Kolaborasi ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuatnya relevan bagi generasi muda.
Bagi masyarakat, kunci menghadapi fenomena ini adalah apresiasi dan pemahaman. Budaya tradisi tidak harus tertinggal, dan budaya pop tidak selalu menghapus identitas lokal. Dengan pendekatan kreatif, kedua dunia ini bisa saling memperkaya, menciptakan inovasi tanpa kehilangan akar budaya.***













