SKYSHI MEDIA – Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, kepemimpinan sering kali diukur dari gelar akademik, kemampuan manajerial, atau strategi bisnis. Namun, jauh sebelum istilah leadership populer, masyarakat Indonesia telah mengenal nilai-nilai kepemimpinan yang lahir dari kearifan lokal. Nilai-nilai ini bukan hanya membentuk karakter pemimpin tradisional, tetapi juga masih relevan diterapkan di era modern.
Salah satu contoh nyata adalah falsafah “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” dari Ki Hajar Dewantara. Prinsip ini menekankan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, sekaligus pemberi dorongan di belakang. Filosofi tersebut hingga kini masih digunakan dalam pendidikan maupun kepemimpinan organisasi.
Di Tanah Minang, dikenal pula konsep musyawarah mufakat yang mengutamakan kebersamaan dalam pengambilan keputusan. Sementara di Bali, ajaran Tri Hita Karana mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai landasan dalam memimpin komunitas. Nilai-nilai ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal dominasi, melainkan keseimbangan, kebijaksanaan, dan keberpihakan pada kebaikan bersama.
“Pemimpin yang baik tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Kearifan lokal memberi kita pondasi moral yang kokoh,” ungkap Dr. Ratna Dewi, pakar budaya dan kepemimpinan dari Universitas Gadjah Mada.
Dalam praktiknya, nilai-nilai kepemimpinan lokal bisa diaplikasikan dalam dunia modern, baik di perusahaan, organisasi sosial, maupun pemerintahan. Dari sini, kita belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal strategi dan pencapaian, tetapi juga soal integritas, keberanian, dan kearifan dalam mengambil keputusan.
Kearifan lokal adalah warisan yang tak lekang oleh waktu. Dengan mengintegrasikannya dalam praktik kepemimpinan hari ini, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membentuk gaya kepemimpinan yang lebih humanis, berakar, dan berkelanjutan.***













