SKYSHI MEDIA – Sejak dulu, musik bukan hanya sekadar hiburan. Ia juga menjadi medium yang ampuh untuk menyuarakan aspirasi, menggugah emosi, hingga menggerakkan massa. Dari lagu perjuangan di era kemerdekaan hingga musik protes modern, peran musik dalam aktivisme sosial selalu punya tempat penting dalam sejarah.
Di Indonesia, lagu-lagu Iwan Fals misalnya, menjadi simbol kritik sosial yang mampu menyentuh hati rakyat sekaligus menekan pemerintah. Di kancah global, musisi seperti Bob Dylan, U2, hingga Beyoncé menggunakan panggung musik untuk menyoroti isu-isu mulai dari ketidakadilan, perubahan iklim, hingga kesetaraan gender.
Musik bekerja dengan cara yang unik. Liriknya dapat menyampaikan pesan secara langsung, sementara melodi dan ritmenya mengikat emosi pendengar. Tidak heran, konser amal, kampanye sosial, hingga gerakan protes sering kali menjadikan musik sebagai motor penggerak solidaritas.
Namun, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Ketika musik menjadi bagian dari aktivisme, pertanyaan tentang komersialisasi juga muncul: apakah musik benar-benar tulus untuk perubahan, atau sekadar strategi pemasaran? Meski begitu, satu hal jelas—musik memiliki kekuatan untuk menyatukan dan menggerakkan manusia menuju perubahan yang lebih baik.***













