SKYSHI MEDIA – Era digital mengubah wajah industri hiburan, termasuk cara publik melihat kehidupan selebriti. Media sosial kini menjadi panggung utama, di mana artis dan influencer membagikan momen pribadi, gaya hidup mewah, hingga sisi keseharian yang tampak “apa adanya.” Namun, pertanyaan besar muncul: apakah itu benar-benar nyata, atau hanya sekadar konten yang dikurasi?
Fenomena ini membuat batas antara kehidupan pribadi dan publik semakin kabur. Selebriti dituntut untuk terus relevan dengan mengunggah konten yang menarik. Tak jarang, strategi pencitraan dilakukan demi menjaga popularitas, meskipun kenyataannya berbeda jauh dari yang terlihat di layar.
Di sisi lain, media sosial juga membuka ruang bagi keaslian. Ada artis yang memilih menunjukkan sisi manusiawi: kegagalan, perjuangan, hingga pengalaman emosional yang jarang terekspos. Hal ini menciptakan kedekatan dengan penggemar yang merasa bahwa idola mereka lebih “real.”
Namun, risiko tak terhindarkan adalah tekanan psikologis. Selebriti bisa terjebak dalam keharusan untuk selalu tampak sempurna, sementara audiens pun mudah terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis.
Era digital membuat publik harus lebih kritis. Kehidupan selebriti mungkin tampak glamor, tapi di balik layar, ada kerja keras, strategi, dan tentu saja sisi yang tak selalu bisa ditampilkan. Pertanyaannya, apakah kita siap menerima selebriti apa adanya, atau tetap lebih suka versi yang sudah dipoles sebagai konten?***













