SKYSHI MEDIA – Di era media sosial, fenomena “stan culture” semakin populer. Kata “stan” berasal dari gabungan “stalker” dan “fan”, yang menggambarkan penggemar dengan tingkat dukungan luar biasa, bahkan terkadang berlebihan, terhadap idolanya. Dari musik K-pop hingga film Hollywood, stan culture kini menjadi bagian tak terpisahkan dari industri hiburan global.
Bagi banyak orang, stan culture memberikan ruang komunitas yang hangat. Para penggemar bisa berbagi cerita, saling mendukung, hingga melakukan aksi kolektif seperti trending tagar, donasi, atau streaming massal untuk mendukung idola. Tak jarang, aksi positif mereka membawa dampak sosial besar, seperti penggalangan dana untuk korban bencana.
Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menimbulkan kontroversi. Obsesi berlebihan sering kali melahirkan fan war, penyebaran ujaran kebencian, hingga tekanan ekstrem terhadap artis yang mereka dukung. Bahkan, beberapa stan rela mengorbankan kesehatan mental maupun finansial demi mempertahankan “loyalitas” terhadap idolanya.
Sosiolog menilai, stan culture adalah refleksi dari kebutuhan manusia untuk memiliki identitas dan keterikatan. Media sosial memperkuat ikatan ini, membuat batas antara dukungan sehat dan obsesi menjadi kabur.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana para penggemar dan industri hiburan dapat menyeimbangkan semangat dukungan dengan menjaga kesehatan mental serta kehidupan pribadi, baik bagi penggemar maupun idola.***













