SKYSHI MEDIA – Budaya sering kali dianggap sebagai warisan yang hanya perlu dijaga, namun kini ia juga menjadi sumber penghidupan. Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi yang semula hanya hadir dalam bentuk upacara adat, kesenian, atau kerajinan tangan, kini telah bertransformasi menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Contohnya, batik dan tenun tradisional yang dahulu dibuat untuk kebutuhan lokal, kini menjelma menjadi produk fashion bernilai tinggi di pasar internasional. Begitu pula dengan tari tradisional dan musik daerah, yang kini dikemas dalam paket wisata budaya, menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Transformasi ini disebut sebagai ekonomi budaya—sebuah konsep di mana kekayaan tradisi dan seni lokal dijadikan basis pengembangan usaha. Di satu sisi, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan di sisi lain, tradisi tetap lestari serta semakin dikenal dunia.
Namun, ada tantangan yang harus dihadapi, seperti menjaga keaslian budaya di tengah komersialisasi. Banyak pihak menekankan pentingnya keseimbangan: bisnis boleh berjalan, tapi nilai budaya tidak boleh hilang. Inilah yang membuat ekonomi budaya bukan sekadar soal keuntungan finansial, melainkan juga upaya melestarikan identitas bangsa.
Melihat tren ini, pemerintah dan komunitas kreatif mulai mendorong lahirnya ekosistem yang mendukung pelaku ekonomi budaya, mulai dari pelatihan, pemasaran digital, hingga akses ke pasar global. Harapannya, semakin banyak tradisi Indonesia yang tidak hanya hidup di tanah kelahiran, tetapi juga mendunia sebagai aset ekonomi yang berdaya saing.***













