SKYSHI MEDIA – Resesi global bukan lagi sekadar wacana, melainkan ancaman nyata yang bisa memengaruhi seluruh lapisan masyarakat. Pertanyaan penting muncul: apakah Generasi Z, yang kini mendominasi pasar kerja dan konsumsi, siap menghadapi badai ekonomi ini?
Generasi Digital dengan Mental Fleksibel
Generasi Z dikenal sebagai digital native. Mereka tumbuh bersama teknologi, terbiasa dengan informasi cepat, serta mampu beradaptasi dengan perubahan. Kemampuan inilah yang membuat Gen Z relatif lebih siap mencari peluang di tengah ketidakpastian, seperti membangun usaha digital, freelancing, hingga investasi berbasis aplikasi.
Gaya Hidup yang Bisa Jadi Tantangan
Meski adaptif, banyak Gen Z yang masih terjebak gaya hidup konsumtif. Tren buy now pay later, belanja impulsif lewat e-commerce, hingga kebiasaan ngopi mahal bisa memperburuk kondisi finansial ketika resesi benar-benar menghantam. Disiplin dalam mengatur keuangan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kesadaran Finansial Mulai Tumbuh
Kabar baiknya, semakin banyak anak muda yang sadar pentingnya literasi keuangan. Mulai dari investasi reksa dana, emas digital, hingga kripto—meski berisiko—menjadi pilihan untuk melindungi nilai aset. Selain itu, pelatihan finansial yang semakin mudah diakses lewat media sosial turut membantu meningkatkan kesadaran.
Tantangan Dunia Kerja
Resesi biasanya berdampak pada meningkatnya pengangguran. Bagi Gen Z yang baru masuk dunia kerja, ini jadi ujian berat. Namun, fleksibilitas mereka dalam beradaptasi dengan pekerjaan remote, part-time, hingga membangun personal branding di media sosial bisa jadi senjata menghadapi ketidakpastian.
Generasi Z memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi resesi global: melek teknologi, adaptif, dan kreatif. Namun, tanpa disiplin finansial dan mental tahan banting, peluang ini bisa berbalik menjadi ancaman. Persiapan sejak dini adalah kunci, agar resesi bukan menjadi momok, melainkan tantangan yang bisa ditaklukkan.***
