SKYSHI MEDIA- Karya-karya puisi Muhammad Alfariezie dekat dengan postcritical theory dan public humanities yang berkembang kuat pada dekade 2020-an melalui pemikiran Rita Felski.
Membaca puisinya dari pendekatan teori tersebut, karya-karya di bawah ini menarik karena tidak berusaha menyembunyikan posisi ideologis penyair di balik metafora yang rumit.
Dalam kerangka Felski, sastra tidak hanya dibaca sebagai objek yang harus dicurigai (hermeneutics of suspicion), melainkan sebagai medium keterikatan sosial dan afektif.
Puisi Telur Dadar di depan Kipas Tua memperlihatkan etika keseharian kelas pekerja yang menemukan makna hidup dalam keluarga, bukan dalam konsumsi maupun kekuasaan.
Sementara Raja Gerbang Sumatera mengubah nasib harimau menjadi kritik ekologis terhadap kerusakan lanskap dan hilangnya habitat.
Kedua puisi tersebut menunjukkan apa yang oleh Bruno Latour disebut sebagai jejaring manusia dan nonmanusia, ketika pengemudi ojol, kipas tua, hutan, sungai, dan harimau sama-sama menjadi aktor pembentuk realitas sosial.
Telur Dadar di depan Kipas Tua
Bahagia bersama anak dan istri
walau menahan kantuk sepanjang
bonceng tiga ke rumah orang tua
Yakinlah cinta sejati
Layaknya pengemudi ojol
melindungi order di hujan angin
kencang demi nasi telur dadar
untuk yang setia menunggu
di kontrakan
Bahagia dengan mereka tanpa
narkotika serta alkohol yang
semalam membuat gila
Wajib terjaga meski sejuk tidurnya
di depan kipas tua
Masabodo korupsi pemerintah,
masabodo perang Rusia-Ukraina
rebutan minyak Timur Tengah
Biar KPK, Tentara, Polisi-Jaksa dan
wakil tuhan bekerja
Usaha saja berumah tangga sesuai
amanah buku nikah
2026
Raja Gerbang Sumatera
Hutan Gerbang Sumatera berkarat
tak hanya melukai, tapi menyayat
harimau hingga terangkut ke
dalam pagar wisata hewan
Raja rimba berenang di sungai-
sungaian tanpa aliran ikan
Walaupun daging anjing dan babi
tersaji tanpa perlu ia berlari
Meski enggak mesti melawan buaya
hingga beruang atau takut amuk
pemburu kesal
Langkahnya pincang, gampang
terkapar layaknya supir tol pecah
ban meski aum ataupun aungnya
diesel menabrak telinga
2026
Wali Kota Patrick Kluivert
Ketika Coach Shin tak henti-henti
berdiri, mencatat dan berteriak
demi instruksi taktik layaknya
ranting, kembang dan daun
menahan serangan
Saat Jhon Herdman tancap gas
berupaya tepat mengangkut
punggawa eropa dan produk
liga satu paling istimewa demi
Garuda menukik dari ketinggian
kemudian jeli memangsa di bahaya
samudera
Pada saat ketika itu juga wali kota
bahagia dengan Polda dan Jaksa
tapi terhadap kita pemilihnya
Layaknya Patrick Kluivert yang
sekadar berkeliling stadion menyapa
pembeli tiket pun
Enggan
Langsung pulang usai buang-buang
anggaran, mengubur impian
2026
Kebijakan Main Lego di Awan
Ke mana dokter dan suster Rumah
Sakit Jiwa ketika supir ambulan abai
terhadap Wali kota yang mengaku
cantik dan awet muda tapi
faktanya pohon kuburan hanya
batang dan ranting
Wanita berjilbab dengan androk
sejengkal di atas dengkul itu bilang,
“Awan menyimpan penyucian hujan
sebagai lahan terbaik membangun
taman anak-anak
Ingin dimodalkannya tiket gratis
menyusun lego di sana dan bapak-
ibu hingga buyut renta mendampingi
dengan modal menanam bunga
Dijanjikannya hidup senang tanpa
harus bekerja karena dekat sumber
air dan dan cahaya
Apakah dokter dan suster itu tidak
tahu, saat ini hanya supir ambulan
yang benar-benar juru selamat
warga tersandera segala pihak
yang memegang kendali pemakzulan-
pidana
Tolong dokter dan suster rumah sakit
jiwa, jangan ikut gerbong orang gila
maka carilah kami selagi bisa
2026
Kejati Jangan Seperti Sapi
Mereka berhutang budi, tapi
bukan terhadap wali kota yang
terus-terusan asyik sendiri
tanpa sejenak berkenan
memahami dan tunduk regulasi
Yang Kejati pikul beban hibah
penekan anggaran stunting
warga miskin, menekan angan-
angan menteri dan presiden
Hutang budi mereka kepada
suatu negeri bukan kepada
perempuan sering berkelakar
di atas korban tersambar nasib
yang hambar
Hutang budi Kejati bukan
kepadanya yang menurut ketua
komisi tak pernah membaca
apalagi memahami konstitusi
Jadi tangkap wali kota enggak
tahu malu
Ingat! Pembangunan gedung
barumu sumbernya pajak dan
retribusi rakyat
Kulitnya legam dan hanya makan
nasi garam supaya terbilang setia
kepada republik layaknya Totti
dan Phillip Lahm
Hutang budi kepadanya, tidak ada
karena suplay hibah itu sungguh
— musykil dia kocek uang pribadi
meski menjabat dua periode dari
estafet suami
Tangkap segera gelandang tanpa
bayang terlindas kencang kontainer
muat berton-ton barang
Seret pengorban anak miskin
demi ambisi dinasti
Tangkap kepelitan itu agar enggak
sampai membangun hotel pribadi
di atas perih guru yang pensiunannya
lenyap karena saudari kembarnya
makin happy dihadiahi Ketua PGRI
Kejati, tak punya hutang budi
maka jangan seperti sapi
2026
Kekuatan utama penyair terletak pada kemampuannya mengangkat pengalaman rakyat kecil dan krisis lingkungan melalui bahasa yang lugas, meskipun pada beberapa bagian kecenderungan sloganistik membuat kompleksitas artistik sesekali tergeser oleh dorongan argumentatif.
Melalui perspektif affective politics dan teori populisme budaya kontemporer yang banyak dikembangkan oleh Chantal Mouffe, puisi Wali Kota Patrick Kluivert, Kebijakan Main Lego di Awan, dan Kejati Jangan Seperti Sapi dapat dibaca sebagai sastra yang sengaja membangun antagonisme antara rakyat dan elite kekuasaan.
Penyair menghadirkan figur wali kota, aparat hukum, tenaga kesehatan, hingga tokoh sepak bola sebagai simbol pertarungan moral dalam ruang publik.
Strategi estetiknya tidak bertumpu pada ambiguitas seperti puisi liris modernis, melainkan pada satir, ironi, hiperbola, dan kemarahan yang terbuka.
Dalam konteks teori sastra politik mutakhir, karya-karya ini memperlihatkan transformasi puisi menjadi arena partisipasi warga yang berfungsi sebagai pengawasan sosial terhadap kekuasaan.
Namun secara kritik sastra, keberpihakan yang sangat eksplisit berisiko mengurangi ruang tafsir pembaca karena tokoh-tokoh sudah diarahkan menuju posisi moral tertentu.
Dengan demikian, kumpulan puisi ini memiliki nilai penting sebagai dokumentasi emosi publik dan kritik sosial-ekologis era 2026, sekaligus menunjukkan ketegangan klasik antara fungsi estetik sastra dan fungsi advokasi politiknya.***













