SKYSHIMEDIA– Pelatih Kepala PSM Makassar, Bernardo Tavares, mengungkapkan kekagumannya terhadap Jose Mourinho yang beberapa hari lalu berhasil menumbangkan Feyenoord 5-2 dalam gelaran Kualifikasi Liga Champions di Turki. Bernardo menilai Mourinho sebagai pelatih yang mampu beradaptasi dengan situasi finansial dan kondisi tim, meskipun sering dibatasi dalam hal belanja pemain.
Ketika ditanya mengenai preferensinya terhadap gaya sepakbola reaktif dan adaptif antara Pep Guardiola dan Jose Mourinho, Bernardo menekankan bahwa kesuksesan Guardiola banyak ditopang oleh dukungan finansial klub. Menurutnya, Guardiola memiliki keleluasaan dalam merekrut pemain sesuai kebutuhan tim maupun selera pribadi, sehingga memudahkan sang pelatih dalam memaksimalkan taktik yang diterapkan.
“Guardiola punya privilege, mudah memilih pemain terbaiknya. Di Barcelona dan Bayern Munchen pun, ia bisa memilih pemain yang ia suka di berbagai posisi. Dia bisa dengan mudah memaksimalkan taktiknya karena kemudahan merekrut pemain,” jelas Bernardo dalam konferensi pers H-1 menjelang PSM menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC, Jumat, 11 Agustus, di Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, Bandar Lampung.
Berbeda dengan Guardiola, Jose Mourinho dikenal sering menghadapi pembatasan finansial. Bernardo mencontohkan bahwa selama karier Mourinho, hanya saat menukangi Inter Milan sang pelatih diberi kebebasan penuh oleh presiden klub. Sementara di Chelsea, pada periode pertama, kepemimpinannya bahkan dibatasi dengan penunjukan Avram Grant sebagai direktur olahraga yang kemudian bertindak sebagai karteker menggantikan The Special One.
Bernardo menilai bahwa kemampuan Mourinho untuk bermain reaktif merupakan hasil adaptasi terhadap tim yang tidak berada dalam kondisi finansial terbaik. “Fenerbahce bukan tim terbaik, ada Galatasaray yang lebih kuat secara finansial di Liga Turki, dan di Roma pun begitu. Untuk membandingkan adaptif dan reaktif, kita juga harus melihat kekuatan finansial sebuah tim,” ujarnya.
Selain itu, Bernardo juga mengungkapkan tantangan yang dihadapinya dalam bursa transfer. Ia sempat ingin merekrut dua pemain asing yang kini bermain untuk Bhayangkara Presisi Lampung FC. Namun, keterbatasan anggaran PSM membuat kedua pemain tersebut akhirnya memilih klub dengan kemampuan finansial lebih kuat.
“Saya ingin beli dua pemain asing yang saat ini gabung Bhayangkara, tapi ya dua pemain itu tahu Bhayangkara punya lebih banyak uang dibanding PSM,” ungkapnya.
Di awal konferensi pers, Bernardo juga memberi apresiasi kepada Bhayangkara Presisi Lampung FC atas fasilitas Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, yang menurutnya sangat layak untuk menggelar pertandingan di kompetisi tertinggi Indonesia. Ia menilai kualitas stadion menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan pertandingan yang profesional.
Dengan pandangannya, Bernardo menunjukkan bagaimana sepakbola bukan hanya soal taktik, tetapi juga strategi adaptasi terhadap kondisi finansial dan sumber daya yang tersedia, serta bagaimana pelatih besar seperti Jose Mourinho mampu tetap menorehkan prestasi meski menghadapi keterbatasan.***













